Jl.Kedungmundu Raya No.18

SEMARANG, 50273

024 - 76740296

sekretariat@unimus.ac.id

Trisula Muhammadiyah Berdayakan Masyarakat

Prof. Dr. H. Zakiyyudin Baidhawy, M.Ag memberikan buku tulisannya kepada para Wakil rektor Unimus dan Pimpinan ilayah Muhammadiyah Jateng

Semarang  | Salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, sudah satu abad lebih berkiprah dalam pemberdayaan masyarakat, baik di bidang ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Dalam kiprahnya tersebut, Muhammadiyah melakukannya dengan etos kerja dan spirit surat Al – Maun dan Al – Ashr yang ditekankan sejak lama oleh Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Spirit surat Al – Maun dan Al – Ashr itu sendiri diulas secara khusus oleh Prof. Dr. H. Zakiyyudin Baidhawy, M.Ag dalam bukunya yang berjudul “Etika Muhammadiyah dan Spirit Peradaban”. Unimus sendiri telah mendapatkan kesempatan bedah buku bersama direktur pascasarjana IAIN Salatiga tersebut di Masjid At Taqwa Muhammdiyah Semarang pada Kamis 8 Februari 2018. Tutur hadir pula Wakil Rektor I Dr. Sri Darmawati, M.Si., Wakil Rektor II Dr. Hj. Sri Rejeki, S.Kp, M.Kep, Sp.Mat, serta Wakil Rektor III Drs. Samsudi Rahardjo, MM. MT untuk mengapresiasi acara tersebut.

Zakiyyudin menyebut bahwa keseluruhan gerakan Muhammadiyah dikenal dengan istilah trisula yakni feeding, schooling, dan healing. Dari aspek pendidikan, Muhammadiyah telah mendirikan lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi besar termasuk Unimus. Muhammadiyah juga telah memiliki klinik kesehatan dan rumah sakit (aspek kesehatan), serta adanya Lazismu di aspek sosial ekonomi.

“Keseriusan Kiai Dahlan dalam menanamkan etos kerja dari surat Al – Maun dan Al – Ashr bisa dilihat dari lamanya pengajaran dua surat ini. “Surat al-Ma’un selama 3 bulan berturut-turut sedangkan surat al-Ashr diajarkan selama 7 bulan. Oleh karenanya Kiai Dahlan dikenal sebagai kiai al-Ashr.” ulasnya.

Dalam etos kerja surat Al – Maun, Zakiyyudin menyatakan bahwa umat islam harus punya sikap kritis dan peduli terhadap kehidupan disekitar. Sebagai contoh pada saat itu Kiai Dahlan mengajak muridnya untuk keluar melihat lingkungan sekitar, dimana banyak anak yatim. Kiai Dahlan tidak membiarkan anak yatim pulang kecuali membawa makanan, minuman, bahkan pakaian untuk kebutuan sehari-hari. Sementara etos kerja surat al-Ashr, berisi alternatif apa yang diberikan terhadap sesuatu yang dikritik sebelumnya. Al-Ashr inilah etos yang menggerakkan Muhammadiyah untuk mandiri dan berdaya terhadap masyarakat. Dengan kata lain, Al-Ashr memberikan jawaban atau kepedulian dari Muhammdyah.

Kajian tersebut nantinya akan mempertegas peran segenap kader dan aktivis Muhammadiyah dalam memajukan Muhammadiyah dengan semangat Islam berkemajuan. Spirit kerja keras dan kerja cerdas ini, bisa menjadi konstribusi penting Muhammadiyah dalam membangun bangsa dan Negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *