Mahasiswa Teknologi Pangan Unimus Latih Kaum Ibu Bima NTB Mengolah Pangan Lokal

Beramal dengan ilmu, itulah yang menjadi bagian kehidupan Islami yang ditanamkan di lingkungan UNIMUS. Dua mahasiswa Teknologi Pangan yaitu Ridowati Solekhatun dan Saptya Fajar Pertiwi berupaya mentransfer ilmu dan ketrampilannya yang telah diperoleh kepada Ibu-Ibu di wilayah Kota Bima dan Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat. Dua mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir tersebut melatih kaum Ibu di Bima untuk mengolah potensi lokal yaitu buah kawista dan labu kuning menjadi produk selai, sirup, saos dan dodol.

Bima Nusa Tenggara Barat adalah salah satu penghasil buah kawista di Indonesia. Selama ini buah kawista atau orang Bima meyebutnya buah kinca, belum dimanfaatkan sebagai produk olahan yang bernilai ekonomi, kecuali hanya dimakan dalam bentuk segar sebagai rujak ( dicampur gula, garam dan cabe), dan lebih banyak yang terbuang. Demikian juga dengan labu kuning, baru dimanfaatkan sebagai sayur.

Kegiatan pengabdian bertajuk “Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Petani: Pengolahan Buah Kawista dan Srikaya menjadi Selai, Sirup dan Dodol tersebut”  diselenggarakan oleh  PT Pertamina tersebut, direncanakan di 4 tempat wilayah Kota dan Kabupaten Bima, dengan jumlah peserta sekitar 1.120 orang, yang terbagi menjadi 8 angkatan, dimulai sejak tanggal 27 Mei lalu dan Insyaallah berakhir tanggal 13 Juni 2013. Dosen  yang mendampingi mahasiswa dalam kegiatan tersebut adalah   Siti Aminah, S.TP, M.Si dan Agus Suyanto, S yang sekaligus memberikan materi terkait dengan cara pengolahan pangan yang baik, hygiene sanitasi, pengemasan dan pelabelan produk pangan.

Antusiasme ibu-ibu perserta pelatihan angkatan I, II, III di Kota Bima dan Kecamatan Sape Kabupaten Bima terlihat dengan kesungguhan dalam berlatih. Keheranan para peserta terhadap produk-produk yang dihasilkan dari buah kawista dan labu menunjukkan kehausan para peserta akan informasi pendayagunaan potensi lokal yang sangat banyak. Selai, sirup, dan dodol kawista hasil demonstrasi dari Tia dan Rido pada hari pertama pelatihan langsung habis  diserbu peserta. Hari kedua peserta melakukan pengolahan kawis secara berkelompok.

Saptya Fajar Pertiwi dan Ridowati Solekhatun merasa bangga dan semakin mantap  dengan keilmuan yang telah dimiliki. Pilihan  program studi yang tepat untuk berkarya dan mengembangkan potensi. “Ternyata peluang bagi kami begitu luas ya Bu….” Begitu penyataan Tia yang dilontarkan kepada salah satu dosen pendampingnya, setelah mengetahui secara nyata kondisi di masyarakat. Bentangan kesempatan begitu luas terlihat di daerah seperti Bima untuk pengembangan produk pangan. Kondisi tersebut menjadi perwakilan daerah lain luar pulau Jawa yang kaya potensi pangan lokal dan belum dimanfaatkan.

 
BERITA LAIN  
 
Program Studi D-III GIZI Unimus Terakreditasi B
22 Juli 2014

 
Program Studi Teknologi Pangan UNIMUS Ikuti Forum Internasional di Brisbane Australia
22 Juli 2014

 
MAHASANTRI SEBAGAI ROLE MODEL DAN AGEN PERUBAHAN | WISUDA SANTRIWATI KH SAHLAN ROSJIDI UNIMUS RESIDENCE 2014
15 Juli 2014

 
Belajar Jadi Wirausahawan Sukses dari CEO Sidji Batik | Banggalah menjadi pencipta lapangan kerja
02 Juli 2014

 
Ibram Syahboedin (Ka BPS Jateng) | Ahli Statistik Sangat Dibutuhkan dalam Berbagai Bidang Pembangunan Nasional
26 Juni 2014

 
Wamenkes Ali Gufron | Mahasiswa Unimus Harus Siap Menjadi Tenaga Kesehatan Berkeunggulan Kompetitif
24 Juni 2014

 
Kemeriahan Lustrum ke-3 Unimus 2014
24 Juni 2014

 
Rapat Kerja Tahunan, Penyurunan Program Kerja Unimus 2014/2015
24 Juni 2014

 
Pembangunan Laboratorium Pendidikan Kesehatan Unimus Dimulai
09 Juni 2014

 
Unimus | Goes To Kualalumpur 2014
06 Juni 2014

 
 
Indeks Berita  
 
  Dibaca 660 kali | Diposting pada 20 Agust 2011  
   
  Share  
     
 
       
 
     
 
  Copyright © 2010 Universitas Muhammadiyah Semarang