Semarang | Fakultas Sains dan Teknologi Pertanian (FSTP) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) melepas sebanyak 45 lulusan pada acara Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati pada Wisuda ke-49 Periode Juni 2026. Prosesi pelepasan berlangsung penuh haru sekaligus menjadi momentum apresiasi atas perjuangan para mahasiswa selama menempuh pendidikan. Berdasarkan Surat Keputusan Dekan FSTP Unimus Nomor 41/UNIMUS.A/DEK/FSTP/2026 tentang Lulusan Program Sarjana dan Nomor 42/UNIMUS.A/DEK/FSTP/2026 tentang Lulusan Terbaik, sebanyak 45 mahasiswa dinyatakan lulus dan berhak mengikuti Wisuda ke-49 Unimus. Dari jumlah tersebut, Program Studi S1 Statistika meluluskan 25 mahasiswa, sedangkan Program Studi S1 Teknologi Pangan meluluskan 20 mahasiswa.

Pada kesempatan tersebut, FSTP Unimus juga memberikan penghargaan kepada dua lulusan terbaik. Dari Program Studi S1 Statistika, penghargaan diraih oleh Setiawan Amrullah, S.Stat., dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96. Sementara dari Program Studi S1 Teknologi Pangan, penghargaan diberikan kepada Nadia Eka Putri, S.TP., yang berhasil meraih IPK 3,92.

Dekan FSTP Unimus, Dr. Nurhidajah, S.TP., M.Si., menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati yang telah berhasil menyelesaikan studi setelah menempuh perjalanan akademik selama tiga setengah hingga empat tahun.
“Perjalanan selama kuliah tentu tidak mudah. Ada yang harus jauh dari keluarga, ada yang kuliah sambil bekerja, ada pula yang harus membagi waktu antara tugas akademik dan aktivitas lainnya. Semua perjuangan itu hari ini terbayar lunas,” ujarnya.
Menurut Nurhidajah, berbagai tantangan yang dihadapi selama masa perkuliahan akan menjadi pengalaman berharga yang kelak dirindukan oleh para lulusan.
Ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjalanan baru di tengah masyarakat. Terlebih, lulusan Statistika dan Teknologi Pangan saat ini memiliki peran strategis dalam mendukung perkembangan ilmu pengetahuan, industri pangan, hingga pertanian modern.
“Kalian berasal dari program studi yang sangat strategis. Teruslah mengembangkan ilmu yang telah diperoleh selama belajar di FSTP Unimus dan jadilah insan yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Dalam sambutannya, Nurhidajah juga berpesan agar para lulusan senantiasa menjadi pembelajar sepanjang hayat serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
“Belajar tidak mengenal batas usia. Gelar sarjana yang diperoleh hari ini bukanlah akhir, melainkan awal untuk terus belajar dan mengembangkan diri di universitas kehidupan, yaitu masyarakat,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga integritas, etika profesi, dan nama baik almamater di mana pun para lulusan berkarya.
“Sebagai profesional, ilmuwan, pengusaha, maupun birokrat, tetaplah menjunjung tinggi kejujuran karena kejujuran saat ini merupakan sesuatu yang sangat berharga,” tegasnya.

Sementara itu, perwakilan lulusan, Setiawan Amrullah, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah dilalui bersama.
Ia menuturkan bahwa setiap mahasiswa memiliki kisah perjuangan yang berbeda. Ada yang harus merantau jauh dari rumah, kuliah sambil bekerja, aktif berorganisasi, hingga berjuang dalam diam untuk menyelesaikan studi.
“Kita semua pernah merasakan masa-masa sulit, mulai dari tugas yang menumpuk, keterbatasan ekonomi, hingga rasa lelah dan kesepian. Namun, hari ini kita berdiri di sini karena memilih untuk tidak berhenti,” ungkapnya.

Setiawan juga menyampaikan apresiasi kepada dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh sivitas akademika yang telah mendampingi mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Ucapan terima kasih secara khusus ia sampaikan kepada para orang tua yang telah berjuang dan berkorban demi pendidikan anak-anak mereka.
“Ada orang tua yang bekerja siang dan malam, menahan lelah, bahkan menyembunyikan kesulitannya demi melihat anaknya menjadi sarjana. Untuk itu, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak dan Ibu,” tuturnya.
Menutup sambutannya, Setiawan mengutip pesan dari Ali bin Abi Thalib, bahwa tidak ada kekayaan yang lebih utama daripada akal, tidak ada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan, dan tidak ada warisan yang lebih baik daripada pendidikan.
Acara pelepasan berlangsung penuh kehangatan dan haru. Para lulusan diharapkan tetap menjaga hubungan dengan almamater serta terus berkontribusi bagi masyarakat sesuai bidang keilmuan masing-masing.
![]()