Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113, Selasa (18/11). Acara berlangsung khidmat dan meriah, dihadiri pimpinan pusat Muhammadiyah, pimpinan wilayah, akademisi, mahasiswa, serta tokoh masyarakat Indonesia. Dalam acara tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mu’ti menyampaikan pesan penting mengenai arah kepemimpinan Muhammadiyah di era perubahan modern dan global yang cepat.

Di Muhammadiyah, kepemimpinan tidak sekadar soal tanggung jawab. Ia juga lebih dekat dengan keteladanan, cara berpikir, dan cara bersikap. Dari sekian banyak pimpinan di persyarikatan, ada model karakter yang sering diejawantahkan yaitu kepemimpinan yang luas, luwes, dan kewes. Mungkin ini adalah istilah yang unik, hangat, dan terasa sangat membumi. Dan menariknya, tiga ciri ini tampak diandalkan dalam gaya kepemimpinan yang lebih diterima oleh masyarakat.

Mari kita bercerita tentang tiga hal itu. “Luas” adalah cara pandang yang tidak pernah merasa sempit dan kaku. Ciri luas, bukan hanya luas wawasannya, tetapi juga luas niat dan tujuan. Pemimpin Muhammadiyah diajarkan untuk melihat jauh ke depan, membaca tanda-tanda zaman, dan tidak berhenti hanya pada rutinitas. Bagi pimpinan PTMA melihat kampus bukan hanya tempat kuliah, tetapi tempat tumbuhnya generasi berkarakter. Tempat dimana luasanya samudra pengetahuan, luasnya toleransi, dan luas cakrawala pemikiran diajarkan.

Pimpinan memandang perubahanl bukan ancaman, melainkan peluang. Pimpinan Muhammadiyah menyiapkan generasi untuk bersaing di level global, tanpa kehilangan jati dirinya. Kata “luas” ini membuat kepemimpinan terasa lapang, tidak menekan, tetapi mengajak untuk berjalan bersama.

Sedangkan “Luwes” bermakna fleksibel, dekat, dan tidak monoton. Luwes bukan berarti tak tegas. Justru, luwes membuat kepemimpinan terasa manusiawi. Dengan cara ini, ruang-ruang rapat di Kampus terasa lebih hidup. Komunikasi berjalan dua arah. Dan keputusan besar diambil tanpa menimbulkan jarak.

Di Muhammadiyah, keluwesan seperti ini adalah keterampilan sosial yang diwariskan ulama dan para pendiri: kuat prinsip, tetapi tetap lembut cara penyampaiannya.

“Kewes” yang bermakna menarik meskipun tetap apa adanya dan sederhana. Ini istilah yang hanya ditemukan di budaya lokal: kewes. Kewes juga menunjukkan tidak berlebihan, tidak glamor, tidak dibuat-buat, tetapi justru membuat orang nyaman dan hormat.

Kewes menjadikan pemimpin bukan sekadar dihormati, tetapi juga hangat dan dekat. Ketika Luas, Luwes, dan Kewes Bertemu: Lahir Kepemimpinan Kampus yang Membumi

Penggabungan nilai dan juga makna bagi Unimus

Jika ketiga ciri ini digabung, kita mendapat sebuah model kepemimpinan ala Muhammadiyah yang mudah mengakar dan menumbuhkan Luas: punya visi yang jauh dan jelas, Luwes: mampu menyesuaikan diri, tanpa kehilangan prinsip, Kewes: tampil menarik meskipun apa adanya, dalam ilmunya dan piawai dalam bertutur.

Tiga nilai ini menyatu dalam gaya kepemimpin Unimus dengan visi misi yang telah ditetapkan oleh perserikatan. Makna dari Unimus kampus berdampak yang sedang terus bergerak dan berkembang Kampus berkembang pesat dengan arah yang jelas, Hubungan internal terasa cair dan produktif, kerjasama antar pimpinan tetap harmoni, Pemimpin tampil sederhana tetapi dihormati karena tampil apa adanya.

Model seperti ini membuat Unimus bukan hanya maju secara akademik, tetapi juga terasa sebagai kampus yang “sejuk”. Unimus membumikan dirinya di tengah masyarakat sebagai kampus yang memajukan, menggembirakan dan memuliakan. Kampus yang memadukan modernitas dan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Nilai Lama, Relevansi Baru dan cerita dari Unimus Tiga istilah itu; luas, luwes, kewes, mungkin terdengar sederhana. Namun dalam praktiknya, ia menjadi formula kepemimpinan yang relevan di tengah dunia yang serba cepat berubah.

Dan melalui cara memimpin Prof. Masrukhi, kita melihat bahwa nilai-nilai lama Muhammadiyah tidak pudar. Karena pandangannya yang luas, Justru niali nilai islam semakin hidup tapi selaras dg zaman, semakin nyata dirasakan, dan semakin menyatu dalam kehidupan kampus.

Kalau Anda pernah bertemu Prof. Masrukhi di acara kampus, Anda mungkin paham apa itu luwes. Beliau bisa berbicara formal dengan pejabat, bahkan tak segan untuk tegas sesuai prinsip, tetapi beberapa menit kemudian sudah bercanda dengan civitas dan mahasiswa. Bisa berbicara strategi besar universitas, lalu membantu menyelesaikan persoalan sederhana dengan gaya santai.

Bukan kepemimpinan yang sibuk mengatur, tetapi kepemimpinan yang mengajak tumbuh bersama. Pimpinan harus hadir kewes apa adanya, dengan gestur tenang, tutur yang ringan, dan wajah yang selalu ramah. Ketika berjalan di kampus, tidak butuh aura wibawa yang dipaksakan. Justru karena kesederhanaannya itulah, pesan dan keputusannya mudah diterima.

Laporan kegiatan Resepsi Milad Muhammadiyah Ke 113 – UM Bandung, 17-18 November 2025

Muhammad Yusuf, PhD
Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Perencanaan Pengembangan

Loading