Perjalanan Capacity Building Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah pada tanggal 20–21 Juni 2026 merupakan sebuah ikhtiar kolektif untuk memperkuat kualitas gerakan dakwah komunitas sekaligus memperkokoh semangat pengabdian kepada umat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda peningkatan kapasitas organisasi, tetapi juga menjadi perjalanan ruhani, intelektual, dan ideologis dalam meneladani perjuangan para pendahulu Muhammadiyah serta menyerap inspirasi dari praktik-praktik dakwah yang telah berhasil dikembangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Rombongan memulai perjalanan pada Sabtu, 20 Juni 2026, pukul 11.30 WIB dari Kompleks Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Jalan Kedungmundu Raya Nomor 18 Semarang. Sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta, suasana penuh keakraban dan semangat kebersamaan begitu terasa. Para peserta menyadari bahwa dakwah komunitas membutuhkan kekompakan, komitmen, dan kesediaan untuk terus belajar dari pengalaman para tokoh serta berbagai model dakwah yang telah terbukti berhasil menjawab tantangan zaman.

Setibanya di Yogyakarta, agenda pertama adalah berziarah ke makam KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Di tempat yang penuh nilai sejarah tersebut, peserta mengenang perjalanan panjang perjuangan beliau dalam membangun gerakan tajdid yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kompleks pemakaman itu juga menjadi tempat peristirahatan terakhir sejumlah tokoh Muhammadiyah yang telah mengabdikan hidupnya untuk dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Ziarah tersebut bukan sekadar mengenang jasa para pendahulu, melainkan menjadi momentum untuk memperbarui tekad agar semangat dakwah amar ma’ruf nahi munkar terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Warisan terbesar KH Ahmad Dahlan bukan hanya berdirinya Muhammadiyah, melainkan lahirnya gerakan Islam yang selalu berorientasi pada pencerahan, pembaruan, dan kemanfaatan bagi masyarakat.
Pada malam harinya, rombongan memperoleh kehormatan bersilaturahmi dan makan malam bersama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haidar Nashir. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Dalam dialog tersebut, Prof. Haidar Nashir menyampaikan pandangannya mengenai tantangan dakwah Muhammadiyah di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta dinamika global yang berlangsung sangat cepat. Menurut beliau, dakwah Muhammadiyah harus mampu menjawab persoalan umat dengan pendekatan yang adaptif, inklusif, dan membangun optimisme masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, LDK PWM Jawa Tengah memaparkan berbagai program dakwah komunitas yang selama ini telah dikembangkan, di antaranya pembinaan komunitas mualaf, pendampingan mantan narapidana terorisme, pembinaan BikersMu, serta dakwah budaya melalui pagelaran wayang yang telah diselenggarakan sebanyak 22 kali di berbagai daerah di Jawa Tengah. Program-program tersebut mendapatkan apresiasi karena menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya hadir di mimbar masjid, tetapi juga menjangkau berbagai komunitas yang membutuhkan sentuhan pembinaan, pendampingan, dan pemberdayaan.
Sebagai bentuk penghormatan, LDK PWM Jawa Tengah menyerahkan wayang tokoh Semar kepada Prof. Haidar Nashir. Tokoh Semar dipilih sebagai simbol kebijaksanaan, kesederhanaan, keteduhan, dan pengayoman. Penyerahan tersebut mengandung doa dan harapan agar beliau senantiasa menjadi pamomong Muhammadiyah yang mampu menghadirkan kesejukan, menjaga persatuan, serta membimbing umat menuju Indonesia yang semakin maju dan tercerahkan. Dalam pesannya, Prof. Haidar Nashir menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah harus menjadi dakwah yang menggembirakan, mencerahkan, menenangkan, dan memberikan harapan kepada masyarakat. Dakwah harus hadir di tengah kehidupan masyarakat dengan membawa solusi, bukan sekadar menyampaikan ceramah.

Pada Ahad, 21 Juni 2026, rombongan mengikuti Pengajian Ahad Pagi di Masjid Sabilul Muttaqin, Kaliduren, Sumberagung, Moyudan, Sleman, yang dihadiri lebih dari seribu jamaah. Pengajian yang disampaikan oleh Prof. Dr. Haidar Nashir berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Di sekitar masjid juga terselenggara bazar ekonomi umat yang melibatkan masyarakat sekitar. Pemandangan tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat, pendidikan, penguatan ekonomi, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Usai pengajian, rombongan melanjutkan kunjungan ke Masjid Al Muharram Brajan. Kedatangan peserta disambut oleh Ketua Takmir Masjid, Bapak Ananto, yang juga menjabat sebagai Ketua LDK PWM Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid Al Muharram dikenal sebagai salah satu pelopor Eco Masjid Indonesia sekaligus penggerak Gerakan Sedekah Sampah berbasis masjid. Pengelolaan masjid yang memadukan dakwah, kepedulian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi umat menjadi inspirasi penting bagi peserta. Dari kunjungan ini, peserta memperoleh keyakinan bahwa dakwah komunitas dapat berkembang secara kreatif apabila mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan memanfaatkan potensi lokal secara optimal.
Seluruh rangkaian Capacity Building ini memberikan penguatan spiritual, intelektual, dan organisatoris bagi peserta. Perjalanan ini menegaskan bahwa dakwah komunitas merupakan strategi penting Muhammadiyah untuk menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat. Dakwah tidak cukup hanya mengajak, tetapi harus membersamai; tidak cukup hanya menyampaikan, tetapi juga membina; tidak cukup hanya memberikan nasihat, tetapi juga memberdayakan dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kehidupan.
Capacity Building LDK PWM Jawa Tengah akhirnya menjadi tonggak penting dalam memperkuat gerakan dakwah komunitas yang lebih adaptif, humanis, dan berkemajuan. Semangat yang dibawa pulang oleh seluruh peserta adalah tekad untuk terus mengembangkan dakwah yang menyentuh akar rumput, memperkuat jaringan komunitas, membangun kemandirian umat, serta menghadirkan Islam yang mencerahkan, menggembirakan, dan membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
![]()