Semarang | Kamis (2 Juli 2026) – Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Humaniora (FIPH) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menggelar Evaluasi PPL Terbimbing dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembimbingan & Pendampingan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) bagi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan Guru Pamong di Ruang Meeting Lantai 15 MG Setos, Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Unimus dan Guru Pamong dari berbagai sekolah mitra di Kota Semarang serta dihadiri Dekan FIPH Unimus Prof. Dr. Doddy Mulyadi, M.Pd., Ketua Program Studi PPG Dr. Siti Aimah, M.Pd., beserta jajaran.

Workshop ini bukan sekadar agenda evaluasi pelaksanaan PPL, melainkan menjadi langkah strategis Unimus dalam memperkuat kualitas calon guru Indonesia. Melalui forum ini, kampus bersama sekolah mitra menyelaraskan standar pembimbingan agar mahasiswa Pendidikan Profesi Guru memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Doddy Mulyadi, M.Pd. menegaskan bahwa kompetensi mengajar tidak cukup dibangun melalui perkuliahan di kelas, tetapi harus ditempa melalui pengalaman nyata di sekolah.

“Mahasiswa harus belajar langsung dari para guru di sekolah. Di sanalah mereka mengembangkan keterampilan mengajar, mengelola kelas, menyusun pembelajaran, hingga menghadapi berbagai dinamika yang terjadi di lapangan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa peningkatan kualitas PPL menjadi salah satu fondasi penting bagi Program Studi PPG Unimus dalam mempersiapkan reakreditasi menuju predikat Unggul pada tahun 2027.

Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Unimus dalam menjawab tantangan pendidikan Indonesia yang semakin dinamis. Perubahan karakter peserta didik, perkembangan teknologi, serta kebutuhan pembelajaran yang berpusat pada siswa menuntut calon guru memiliki kompetensi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga adaptif, reflektif, dan mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Ketua Program Studi PPG Unimus, Dr. Siti Aimah, M.Pd., menjelaskan bahwa evaluasi PPL dilakukan untuk memastikan proses pembimbingan antara kampus dan sekolah berjalan selaras sebelum mahasiswa memasuki tahap PPL Mandiri.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menyamakan persepsi antara DPL dan Guru Pamong sehingga ketika mahasiswa diterjunkan ke sekolah, proses pembimbingan dapat berjalan optimal dan benar-benar mendukung lahirnya guru profesional,” jelasnya.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menjadi faktor penting dalam meningkatkan mutu pendidikan guru. Guru Pamong tidak hanya berperan sebagai pendamping praktik, tetapi juga menjadi mentor yang memperkenalkan budaya sekolah, etika profesi, manajemen kelas, hingga pengambilan keputusan dalam situasi nyata yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah.


Melalui evaluasi ini, berbagai pengalaman selama PPL Terbimbing menjadi bahan refleksi bersama. Sinkronisasi jadwal praktik, mekanisme supervisi, standar penilaian, hingga model pendampingan dibahas untuk menghasilkan sistem pembimbingan yang lebih efektif dan berdampak langsung terhadap kualitas lulusan.

Penguatan kualitas PPL juga sejalan dengan arah kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang menekankan bahwa perguruan tinggi harus menghasilkan lulusan yang mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Dalam konteks pendidikan, lulusan PPG diharapkan hadir sebagai guru yang mampu membangun lingkungan belajar yang inklusif, kreatif, serta mendorong peserta didik berpikir kritis dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

 

Melalui sinergi yang terus diperkuat antara Unimus dan sekolah mitra, Program Studi PPG FIPH Unimus optimistis dapat mencetak guru-guru profesional yang tidak hanya unggul secara pedagogik, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, dan kesiapan menjadi agen perubahan dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.

Loading