Semarang | Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah memperingati Milad ke-109 ‘Aisyiyah dengan mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian melalui Penguatan Qoryah Thoyyibah, Ketahanan Pangan, dan Pencegahan Stunting serta Kemiskinan Ekstrem.” Tema tersebut menegaskan komitmen ‘Aisyiyah dalam memperkuat peran dakwah kemanusiaan yang tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga pemberdayaan dan transformasi sosial masyarakat.

Sebagai organisasi perempuan Islam berkemajuan, ‘Aisyiyah telah menunjukkan kiprah panjang dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat sejak didirikan oleh Siti Walidah bersama Ahmad Dahlan pada 1917.
Sejak awal berdiri, ‘Aisyiyah hadir sebagai jawaban atas berbagai persoalan perempuan pada masa itu yang masih mengalami keterbatasan akses pendidikan dan peran sosial. Organisasi ini kemudian menjadi pelopor gerakan perempuan Islam modern dengan menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam pembangunan peradaban bangsa.
Dalam perjalanan sejarahnya, ‘Aisyiyah tercatat memprakarsai pendidikan anak usia dini pada 1919 melalui konsep pendidikan berbasis pembentukan karakter dan nilai-nilai Islam berkemajuan. Gerakan pendidikan tersebut berkembang dengan pendekatan belajar sambil bermain yang mengintegrasikan nilai religius, kreativitas, serta penguatan pengetahuan umum bagi anak-anak.
Selain bergerak di bidang pendidikan, ‘Aisyiyah juga mengembangkan musholla sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat pada 1922. Setahun kemudian, organisasi ini menggagas gerakan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an dan huruf latin sebagai upaya mencerdaskan umat.
Komitmen terhadap literasi perempuan juga diwujudkan melalui penerbitan majalah Suara ‘Aisyiyah pada 1926 yang hingga kini masih eksis dan menjadi salah satu majalah perempuan tertua di Indonesia yang dikelola organisasi perempuan Islam.
Peran ‘Aisyiyah dalam gerakan perempuan nasional semakin menguat ketika organisasi tersebut turut memprakarsai Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928 yang kemudian melahirkan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI).
Memasuki era modern, ‘Aisyiyah terus memperkuat gerakan organisasi melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat, mulai dari kesehatan keluarga, pemberdayaan ekonomi, pendidikan perempuan, hingga penguatan ketahanan keluarga dan generasi.

Tema Milad ke-109 dinilai selaras dengan arah pembangunan nasional dalam program Asta Cita yang menitikberatkan pada penguatan sumber daya manusia, perlindungan perempuan dan anak, percepatan penurunan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, serta penguatan ketahanan pangan nasional.
Di tingkat daerah, kegiatan ini juga mendukung program strategis Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui “Kecamatan Berdaya” yang mendorong kemandirian wilayah berbasis potensi lokal dan penguatan ekonomi masyarakat.
Sebagai bagian dari implementasi dakwah kemanusiaan, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah menggelar kegiatan bertajuk “Jambore Dakwah Kemanusiaan Milad ‘Aisyiyah dan Hari Keluarga Nasional.” Kegiatan tersebut menjadi wadah konsolidasi gerakan sekaligus penguatan kapasitas muballighat, kader, penyuluh agama, dan mitra strategis dalam isu ketahanan keluarga, ketahanan pangan, pencegahan stunting, hingga pengentasan kemiskinan ekstrem.
Program tersebut juga diintegrasikan dengan pelayanan keluarga berkualitas, edukasi parenting Islami, kesehatan reproduksi, pendewasaan usia perkawinan, serta optimalisasi gerakan zakat, infak, dan sedekah melalui kolaborasi lintas sektor.

Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan harus diwujudkan melalui aksi nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Menurutnya, perdamaian tidak hanya dimaknai sebagai ketiadaan konflik, tetapi juga harus diwujudkan melalui keadilan sosial, kesejahteraan keluarga, ketahanan pangan, serta perlindungan generasi dari ancaman stunting dan kemiskinan ekstrem.
“Perempuan memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dalam membangun keluarga tangguh dan masyarakat yang harmonis,” ujarnya.
Melalui semangat teologi Al-Ma’un, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terus berkomitmen menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat melalui amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Momentum Milad ke-109 ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antara organisasi masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa dalam membangun peradaban yang damai, berkeadilan, dan berkemajuan menuju Indonesia yang sejahtera dan berkeadaban.
![]()