Semarang | Dalam rangka memperingati Bulan Pancasila Tahun 2026, Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) gelar Seminar Kebangsaan, diinisiasi oleh Lembaga Studi Islam Kemuhammadiyahan dan Mata Kuliah Umum (LSIK & MKU) bersama Biro Kemahasiswaan dan Alumni Unimus
Seminar Kebangsaan ini bertujuan memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai wawasan kebangsaan, bela negara, nasionalisme, serta membangun komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari intoleransi, perundungan (bullying), korupsi, narkoba, dan segala bentuk kekerasan.

Selain itu forum ini menjadi bagian dari upaya penguatan nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda sekaligus meneguhkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang berintegritas dan berkarakter. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya diajak memahami Pancasila sebagai dasar negara, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan dihadiri Kepala LSIK Unimus, Dr. Rochdi Warsono, M.Si., bersama Sekretaris Bidang MKU, Dr. Anjar Setiawan. Seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang keilmuan yang membahas isu-isu strategis terkait penguatan karakter kebangsaan.

Fitria Fatichatul Hidayah selaku Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) Unimus menyampaikan materi tentang pencegahan kekerasan dan perundungan di lingkungan kampus. Sementara itu, Dr. Yustinah, M.Pd., dosen Bahasa Indonesia Unimus, membawakan materi mengenai anti-intoleransi dan penguatan nasionalisme.

Narasumber lainnya, Dr. Aris Septiono, S.H., M.H., LL.M., Ketua Program Studi S1 Hukum Bisnis Unimus, mengupas pentingnya membangun generasi emas yang bebas dari narkoba dan korupsi. Adapun Dr. Supriyanto, M.Pd., dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Unimus, menyampaikan materi bertajuk “Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan dalam Perspektif Kewarganegaraan Abad ke-21: Strategi Penguatan Karakter Kebangsaan dan Ketahanan Nasional di Era Globalisasi dan Transformasi Digital.”

Dalam sambutannya, Kepala LSIK Unimus, Dr. Rochdi Warsono, menegaskan bahwa Pancasila merupakan rumah bersama bagi seluruh rakyat Indonesia yang hidup dalam keberagaman suku, bahasa, budaya, tradisi, dan adat istiadat.

“Indonesia memiliki keanekaragaman yang luar biasa. Para pendiri bangsa berhasil menyatukan berbagai perbedaan tersebut dalam satu identitas kebangsaan yang kemudian melahirkan Pancasila sebagai dasar negara. Ini merupakan konsep yang sangat penting dan mendasar bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.

Menurut Rochdi, keberhasilan Indonesia memiliki satu bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia, serta satu ideologi bangsa menjadi kekuatan utama dalam menjaga persatuan dari Sabang hingga Merauke.
Ia menilai tema seminar yang mengangkat isu anti-bullying, anti-korupsi, anti-narkoba, dan anti-kekerasan sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Karena itu, mahasiswa sebagai insan akademik diharapkan mampu menjadi teladan dengan menunjukkan perilaku positif yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat.

“Melalui diskusi dan kajian tentang Pancasila, diharapkan mahasiswa memiliki penguatan terhadap dasar ideologi negara sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Lebih lanjut, Rochdi berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan di kalangan mahasiswa.

“Semoga kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat komitmen sebagai mahasiswa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, menghargai keberagaman, menolak segala bentuk intoleransi dan kekerasan, serta terus berkarya dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa,” pungkasnya.
Melalui Seminar Kebangsaan Bulan Pancasila 2026, Universitas Muhammadiyah Semarang berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat, berintegritas, serta siap menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan dan kemajuan Indonesia.
![]()