Semarang | Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat telah mengubah wajah perpustakaan perguruan tinggi. Tidak lagi sekadar menjadi pusat koleksi buku, perpustakaan kini bertransformasi menjadi pusat sumber daya informasi digital, pengelola repositori institusi, pendukung publikasi ilmiah, sekaligus mitra strategis dalam penguatan riset dan pembelajaran.

Menjawab tantangan tersebut, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (FPPTMA) menyelenggarakan Silaturahmi Nasional (Silasma) dan Seminar Nasional FPPTMA 2026 dengan mengusung tema “High Tech, High Touch: Menjaga Ruh Kemanusiaan di Perpustakaan Era Digital”. Kegiatan yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) ini menjadi wadah konsolidasi, kolaborasi, dan penguatan peran perpustakaan PTMA dalam menghadapi era transformasi digital, Kamis – Jum’at(4-5 Juni 2026).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Bambang Setiaji, M.Si., dan Dr. Ir. Wahyudi, S.T., M.T., Penasehat FPPTMA Drs. Lasa, M.Si., Ketua FPPTMA Irkhamiyati, S.IP., M.IP., Wakil Rektor I UNIMUS Prof. Dr. Budi Santosa, M.Si.Med., Kepala Perpustakaan UNIMUS M. Firdaus CN, S.Hum., serta para pengelola perpustakaan PTMA dari berbagai wilayah di Indonesia.

Selain menjadi ajang silaturahmi dan koordinasi nasional, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan seminar nasional yang menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Novi Diana Fauziah, Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Tengah sekaligus Kepala Perpustakaan Universitas Diponegoro Suwondo, M.Kom., serta Ketua Program Studi Magister Informatika UNIMUS Dr. Dendra Maruto, M.Kom.

Dalam sambutannya, Ketua FPPTMA Irkhamiyati, S.IP., M.IP., menyampaikan bahwa Silasma 2026 merupakan agenda strategis tahunan yang menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi dan arah pengembangan perpustakaan PTMA di Indonesia.

Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), menuntut perpustakaan untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi ruh layanan informasi.

“Sebagai bagian dari pelaksanaan Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, perpustakaan harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dengan tetap menghadirkan sentuhan humanis. Pustakawan saat ini tidak hanya berperan sebagai pengelola informasi, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam pengembangan riset dan pembelajaran,” ujarnya.

 

Irkhamiyati juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi pustakawan melalui penguatan literasi dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai kontribusi nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencerahkan semesta.

Sementara itu, Wakil Rektor I UNIMUS Prof. Dr. Budi Santosa, M.Si.Med., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada UNIMUS sebagai tuan rumah penyelenggaraan Silasma dan Seminar Nasional FPPTMA 2026.

Ia menilai kegiatan tersebut menjadi ruang strategis untuk mempertemukan para pegiat literasi dan pengelola perpustakaan dalam membahas tantangan serta peluang di era digital yang terus berkembang.

“Perkembangan teknologi, khususnya AI, saat ini berlangsung sangat cepat. Berbagai informasi, mulai dari berita hingga artikel ilmiah, dapat diakses dalam hitungan detik. Bahkan banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu lama kini dapat diselesaikan lebih cepat dengan bantuan teknologi,” ungkapnya.

Meski demikian, Prof. Budi menegaskan bahwa kehadiran teknologi tidak boleh menghilangkan aspek kemanusiaan dalam layanan perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan informasi, tetapi juga harus menjadi ruang yang mampu meningkatkan pemahaman, empati, dan pembentukan karakter sivitas akademika.

“Tantangan ke depan bukan hanya menciptakan smart library, tetapi juga human smart library. Perpustakaan harus mampu memadukan kecanggihan teknologi dengan pendekatan yang humanis,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa perpustakaan memiliki posisi strategis sebagai jantung perguruan tinggi, terutama dalam mendukung proses akreditasi, pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

“Keberhasilan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem akademik yang unggul sangat ditentukan oleh kualitas perpustakaannya. Manusia akan tumbuh dan berkembang melalui penguasaan literasi dan ilmu pengetahuan. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci untuk menciptakan kekuatan dan kemajuan bersama,” tuturnya.

Melalui penyelenggaraan Silasma dan Seminar Nasional FPPTMA 2026, diharapkan terbangun keseimbangan antara pemanfaatan teknologi (high tech) dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan (high touch). Dengan demikian, perpustakaan perguruan tinggi dapat terus menghadirkan layanan yang unggul, adaptif, inovatif, serta berpusat pada kebutuhan manusia di tengah perkembangan era digital yang semakin dinamis.

Loading