Semarang | Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) kembali menyelenggarakan Pengajian Kamis Pagi Ramadan 1447 H yang memasuki pekan kedua. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Ramadan 1447 H ini menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Dra. Tafsir, M.Ag., sebagai penceramah utama.

Pengajian berlangsung khidmat dan diikuti oleh seluruh civitas akademika Unimus, mulai dari unsur pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga tenaga penunjang. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an secara bersama-sama sebagai pembuka rangkaian acara.

Dalam tausiyahnya, Tafsir mengangkat tema “Ramadan sebagai Bulan Penyucian Diri”. Ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, sekaligus momentum bagi umat Islam untuk melakukan proses penyucian diri secara menyeluruh. Selain Ramadan, ia juga menyinggung bulan-bulan mulia lainnya dalam Islam, termasuk bulan Rajab yang memiliki keutamaan tersendiri.

Tafsir menjelaskan bahwa proses penyucian diri tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual semata, tetapi juga melalui pelestarian tradisi yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Ia menekankan pentingnya memelihara tradisi lama yang baik serta mengambil tradisi baru yang lebih baik sebagai bagian dari dinamika dakwah Islam.

Menurutnya, terdapat perbedaan antara ajaran Islam dan proses islamisasi. Ajaran Islam bersifat tetap, sementara islamisasi merupakan proses agar nilai-nilai Islam dapat diterima di tengah masyarakat. Proses tersebut membutuhkan kreativitas, termasuk dalam memaknai tradisi yang hadir di bulan Ramadan.

Ia mencontohkan tradisi padusan yang berkembang di masyarakat sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki Ramadan. Selanjutnya, penyucian diri berlanjut sepanjang bulan suci melalui peningkatan kualitas ibadah, hingga ditutup dengan tradisi halal bihalal sebagai bentuk penyucian hubungan antarsesama.

“Ramadan adalah bulan penuh kemuliaan dan kemurahan. Sejak awal hingga akhir, seluruh rangkaiannya merupakan proses penyucian diri, baik secara spiritual maupun sosial,” ujarnya.

Melalui pengajian ini, Unimus berharap civitas akademika dapat semakin menghayati makna Ramadan sebagai momentum pembentukan karakter, peningkatan keimanan, serta penguatan ukhuwah di lingkungan kampus dan masyarakat.

Reportase Humas Unimus (Tri)

Loading