Semarang – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jantung terus diperkuat melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan lembaga kesehatan. Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menjadi salah satu ruang penggerak kampanye tersebut melalui Peringatan Hari Jantung Sedunia dan AF Campaign 2026 di Jawa Tengah yang digelar di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 3 UNIMUS, Minggu (27/9/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan PERKI Cabang Semarang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran UNIMUS dan Yayasan Jantung Indonesia (YJI) tersebut menjadi bagian dari rangkaian kampanye nasional Hari Jantung Sedunia 2026 bertajuk “Don’t Miss A Beat”. Kegiatan di UNIMUS juga terhubung secara daring dengan rangkaian kegiatan pusat sehingga pesan mengenai pentingnya pencegahan dan deteksi dini penyakit kardiovaskular dapat disampaikan secara lebih luas.

Dalam sambutan melalui rangkaian kegiatan pusat, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup sehat melalui pola makan, aktivitas fisik, dan istirahat yang baik.
“Sehat selalu, jaga makanannya, jaga olahraganya dan tidurnya,” pesan Menteri Kesehatan.
Pesan tersebut memperkuat pentingnya upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan jantung. Kesadaran masyarakat untuk mengenali faktor risiko, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta menerapkan pola hidup sehat menjadi bagian penting dalam menekan risiko penyakit kardiovaskular.

Dari Senam Jantung hingga Belajar Menyelamatkan Nyawa
Peringatan Hari Jantung Sedunia di UNIMUS dikemas melalui berbagai aktivitas edukatif dan praktik langsung. Peserta mengikuti Senam Jantung Sehat, edukasi Atrial Fibrillation (AF), kampanye MENARI atau Meraba Nadi Sendiri, edukasi dan praktik Bantuan Hidup Dasar (BHD), serta kegiatan pengabdian masyarakat berupa pemeriksaan antropometri dan pemeriksaan darah.
Salah satu pesan utama yang diperkenalkan melalui kampanye MENARI adalah pentingnya kemampuan masyarakat mengenali denyut nadi sendiri. Langkah sederhana tersebut diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan irama jantung, khususnya Atrial Fibrillation.
Selain edukasi mengenai AF, peserta juga mendapatkan pembekalan dan praktik Bantuan Hidup Dasar. Pengetahuan tersebut menjadi penting karena masyarakat dapat menjadi pihak pertama yang memberikan pertolongan ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan, termasuk henti jantung.
Kegiatan ini sekaligus mempertemukan mahasiswa kedokteran dengan para praktisi dan organisasi profesi. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana pendekatan promotif dan preventif diterapkan kepada masyarakat.

UNIMUS Dorong Kolaborasi Kesehatan yang Berdampak
Dekan Fakultas Kedokteran UNIMUS, Dr. dr. Aisyah Lahdji, M.M., M.M.R., FISPH, FISCM, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan PERKI dalam berkolaborasi dengan UNIMUS pada momentum Hari Jantung Sedunia.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman pembelajaran yang penting bagi mahasiswa kedokteran. Pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui teori di ruang kuliah, tetapi juga melalui interaksi dengan para ahli serta keterlibatan langsung dalam edukasi kesehatan kepada masyarakat.
“Ini bukan event yang hanya seremonial, tetapi betul-betul bagaimana kita bisa mewujudkan pencegahan penyakit jantung,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi antara Fakultas Kedokteran UNIMUS dan PERKI dapat terus dikembangkan, terutama dalam memperkuat pengetahuan, keterampilan klinis, serta pengalaman mahasiswa dalam kegiatan promotif dan preventif.

Sementara itu, Wakil Rektor IV UNIMUS Muhammad Yusuf, Ph.D., menegaskan kesiapan UNIMUS untuk menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan masyarakat dalam berbagai kegiatan yang memberikan manfaat nyata.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk mempertemukan kekuatan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, UNIMUS membuka ruang kerja sama yang lebih luas bersama PERKI, khususnya dalam bidang edukasi kesehatan dan peningkatan kapasitas mahasiswa.
“Kami siap mendukung penuh dan berkonsultasi mengenai segala hal yang diperlukan. UNIMUS juga siap menjadi tuan rumah berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh PERKI di Semarang,” ungkap Muhammad Yusuf.
Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari edukasi, kegiatan sosial, pengabdian kepada masyarakat, hingga peningkatan kapasitas mahasiswa.

Pencegahan sebagai Gerakan Bersama
Dari Yayasan Jantung Indonesia, dr. Dyah Anggraeni, M.Kes., Sp.PK, menekankan pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan jantung masyarakat.
Salah satu upaya yang terus dikembangkan adalah Senam Jantung Sehat. Menurutnya, aktivitas tersebut tidak hanya mendorong masyarakat untuk bergerak, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya olahraga yang dilakukan secara teratur dan terukur.
YJI juga mengembangkan pelatih Senam Jantung Sehat yang terstandar. Keterampilan tersebut dinilai dapat menjadi bekal bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa kedokteran, untuk turut menjadi penggerak pola hidup sehat di lingkungan masyarakat ketika mereka memasuki dunia profesi.
Kolaborasi antara UNIMUS, PERKI, dan YJI melalui kegiatan tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga kesehatan jantung membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Perguruan tinggi dapat berperan melalui pendidikan dan pengabdian masyarakat, organisasi profesi melalui keilmuan dan kapasitas tenaga kesehatan, sementara masyarakat menjadi bagian penting dalam menerapkan perilaku hidup sehat.
Dari UNIMUS untuk Masyarakat
Penyelenggaraan Hari Jantung Sedunia dan AF Campaign 2026 di UNIMUS menjadi bagian dari upaya mendekatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat Jawa Tengah. Kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik, profesi kesehatan, mahasiswa, dan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, pesan “Don’t Miss A Beat” diterjemahkan ke dalam langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari: mengenali denyut nadi, aktif bergerak, memahami pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan, menjaga pola makan dan istirahat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Bagi UNIMUS, kolaborasi ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan pendidikan kesehatan yang tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Setiap detak jantung menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Melalui sinergi antara pendidikan, profesi, dan masyarakat, semangat “Don’t Miss A Beat” diharapkan dapat terus bergerak dari kampus menuju kehidupan masyarakat yang lebih sehat.
![]()