Jl.Kedungmundu Raya No.18

SEMARANG, 50273

024 - 76740296

sekretariat@unimus.ac.id

KEMBALI KEPADA FITRAH | 1 Syawal 1435 H

Semarang-Kedungmundu| 1 Syawal 1435 H| Suasana sejuk dan hening serta kumandang Takbir, Tahmid dan Tahlil, menggema di langit Allah, suara kalimat dzikir keluar dari hamba-hamba mukhlis. Ribuan jamaah menghadiri shalat Ied Fitri di halaman gedung pusat Universitas Muhammadiyah Semarang, Imam dan selaku Khatib adalah Bapak Drs. H. M.Danusiri. MAg. Dosen IAIN Walisongo Semarang . Hakikat keterciptaan manusia atas dasar fitrah laa tabdilila likhalqilaah tidak dapat diganti oleh konsep apapun atas dasar reka-reka manusia. Wujud reka-reka tentang hakikat manusia antara lain menyatakan bahwa manusia tidak lebih dari sebagai bayangan, berada dalam pengasingan, atau terkurung tanpa kebebasan. Islam menegaskan manusia sebagai khalifatul fil ardl. Islam berdiri kokoh atas dasar konsep manusia sebagai pemeluk agama hanif, agama tauhid, Agar manusia lebih paham tentang makna Hanif dijelaskan berulang –ulang lebih dari 54 kali dalam QS Az-Zumar /39:2). Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu kitab membawa kitab kebenaran, maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil Hamd

Allah menghendaki sikap keberagamaan dan ketauhidan secara konsisten, gerak langkah, opini,  dan murni tanpa dicampuri urusan reka-reka atau mengada-ada, tidak ada pada Hadis shahih dan sunnah nabawiyah sunnah Rasulullah Saw.  Kemajuan zaman dan pemikiran serta teknologi  mengakibatkan manusia menjadi pintar dan berani menentang syariat Allah Swt, mencampur aduk antara Islam dengan unsur-unsur luar Islam ke dalam bangunan aneka peribadatan dan diklaim sebagai Islam dengan berbagai Argumen yang direka-reka, tetapi secara praktis tidak pernah dipraktikan oleh Rasulullah dan sahabat serta para tabiin.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil Hamd,

Keberagamaan dan sikap yang tidak konsisten serta mereka-mereka, mengada-ada dalam aspek peribadatan ia
seperti anak busur panah entah kemana menancapnya tidak tahu arah dan bergerak bebas, kualitas keberagamaan Islamnya lenyap, tak berbekas, meski setiap hari melakukan ibadah, selama caranya masih seperti mereka yakini benar tapi jauh menyimpang dari petunjuk Allah dan Rasulullah. Selain seperti anak panah, orang yang mereka reka dalam peribadatan seperti rambut yang dicabut dari tepung, keluar dari Islam tidak terasa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil Hamd,

Keberagamaan dan konsistensi ketauhidan harus didasarkan pengetahuan dan  tuntunan shahih (valid) sunnah nabi Muhammad Saw.  Bukan mereka-reka dan klaim kebebasan hakiki, dan sebuah adat dan tradisi. Sikap keberagaman dan ketauhidan dalam Ibadah murni akan membawa kita kembali ke Fitrah, Fitrah Kemanusiaan, dan Fitrah Aqidah. (Reportase : By Mamdukh Budiman. 28 Juli 2014 : 06.00 WIB)