Jl.Kedungmundu Raya No.18

SEMARANG, 50273

024 - 76740296

sekretariat@unimus.ac.id

Gelar Ketoprak Akademik “Taubat Ken Arok” Dosen Unimus Tampil Menawan

SEMARANG – Dalam mengisi acara malam inagurasi lebih dari 1.000 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) tahun 2014, Unimus menggelar kesenian tradisional ketoprak dengan lakon Taubat Ken Arok di pelataran kampus setempat.

Uniknya, ketoprak yang juga sebagai satu satu rangkaian acara peringatan Lustruk ke-3 (Dies ke-15 tahun) semua pemainnya terdiri para pejabat teras Unimus, dosen, karyawan, dan ditambah beberapa orang mahasiswa Unimus.  Tokoh utama pementasan yaitu Ken Arok diperankan Wakil Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) Dr H Djoko Setyo Hartono SE MM SH, MKn, Ken Endog diperankan Wakil Rektor II (Bidang Administrasi Umum dan Keuangan) Dr Hj Sri Rejeki, SKp MKep Sp (Mat), Resi Agung oleh Wakil Rektor I (Bidang Akademik) Dr H Ir Nurrahman MSi.

Sedangkan peran Empu Gandring dimainkan Dekan FKG Dr drg Saefudin Alie Anwar, dalang (pembaca alur cerita) oleh Badrun Ali serta didukung pemain-pemain lain. Penulis cerita oleh Dian Candra Prasetyanti, S.Pd, M.Pd (dosen bahasa Inggris). Sementara Rektor Unimus Prof Dr H Jamaluddin Darwis MA berhalangan karena sedang tugas bersama Kemendikbud kunjungan luar negeri. Para pemain sering latihan sehingga pementasan ketropak yang diberi label “ketoprak akademik” ini memukau ratusan penonton terdiri  mahasiswa baru dan masyarakat sekitar lingkungan kampus.

Usai pementasan sekitar pukul 23.00-an, WR III Unimus Joko Setyo Hartono  menyatakan rasa senang dengan kegiatan pementasan ketoprak akademik ini. Para pejabat dan dosen serta mahasiswa yang ikut main serta para pendukungnya bisa menghayati dan bermain dengan apik sekaligus mendidik karena diselipkan ucapan-ucapan yang berisi ajaran moral di sejumlah adegan. Tampaknya cerita Ken Arok yang semula dibesarkan di kalangan berandal dan menggapai cita-cita besarnya dengan menghalalkan segala macam cara namun akhirnya Ken Arok tobat ini berhasil menghibur kalangan sivitas akademika dan masyarakat. Mayoritas pemain dan penonton-pun menginginkan tiap peringatan Dies digelar ketoprak atau pementasan seni tradisi lainnya sebagai salah satu upaya pelestarian budaya tradisional. (Sgi)