Oleh: Prof Dr. Masrukhi, M.Pd. (Guru Besar Unnes-Rektor Unimus Semarang)
Nabi kita yang agung wafat di rumah Siti Aisyah istri tercinta, sekali gus dimakamkan di rumah tersebut, di kamar beliau. Semula rumah ini bersebalahan dekat dengan masjid Nabawi di Madinah, sehingga interaksi rosulullah dengan para sahabat di mesjid nabawi menjadi sangat mudah.
Pada era pemerintahan dinasti Umayyah di tahun 707 M, Al-Walid bin Abdul Malik membangun ulang masjid secara besar-besaran dan mengintegrasikan makam Nabi Muhammad SAW ke dalam kompleks masjid. Area antara makam Nabi dan mimbar kemudian dikenal sebagai Raudhah, yang diyakini sebagai salah satu taman surga.
Kubah di atas makam Nabi pertama kali dibangun pada 1279 M, saat masa Kesultanan Mamluk dan Ottoman. Kubah awalnya hanya berbahan kayu dan tidak berwarna. Namun, pada tahun 1482 terjadi kebakaran yang menghanguskan struktur kubah. Oleh Sultan Ottoman Mahmud II, kubah tersebut kemudian diperbaiki dengan struktur yang lebih kuat serta dicat warna hijau. Warna inilah yang kemudian menjadi identitas ikonik makam Nabi SAW di Masjid Nabawi hingga kini.
Selepas subuh, para jamaah cenderung ingin berkunjung kemakam nabi, meski hanya dari luar saja. Kerinduan kaum muslimin se dunia yang sudah terpendam lama, ingin segera tertumpahkan melalui ziarah di makam baginda rosulullah saw, yang sudah sangat dekat untuk dijumpainya.
Lokasinya yang berada di dalam mesjid sebelah roudloh, menjadikan ziarah ini tidak memerlukan perjalanan yang jauh, apalagi dengan menggunakan transportasi. Cukuplah selesai salat shubuh, para jamaah bergerak menuju belakang mihrab dan berjalan ke arah kiri menuju pemakaman nabi. Meskipun letaknya di dalam mesjid bagian depan, akan tetapi suasana ziarah harus dilakukan dengan penuh kesabaran. Hal ini karena jamaah yang melakukannya jumlahnya sangat banyak, berdesak-desakan, dari berbagai bangsa di muka bumi ini.
Kebetulan postur orang-orang Asia termasuk orang Indonesia relatif kecil dibandingkan dengan jamaah dari Pakistan, Bangladesh, Turki, Suriah, Marokko, Nigeria, dan sebagainya. Apalagi jika hal ini terjadi di bulan ramadhan seperti saat ini, maka berdesak-desakan menjadi pemandangan setiap saat khususnya sehabis salat shubuh, ketika akan melakukan ziarah.
Dalam kondisi berdesak-desakan itu tetap saja suasana khusyu’ dan haru menyelimuti para jamaah. Sambil menatap dan dengan susah payah melambaikan tangan pada makam nabi, terdengar suara- suara assalamu alaika ya rosululaah, assalamualaika ya nabiyyallah, assalamu alaika ya habiiballah.
Banyak juga diantara para jamaah itu menangis haru seolah berjumpa dengan nabi. Sebuah perjumpaan yang didambakan oleh setiap muslim, siapa pun dan dari mana pun ; dengan hamba dan utusan Allah yang namanya setiap saat diucapkan baik pada saat salat maupun di luar salat.
Andaikan asykar (petugas keamanan mesjid nabawi) memperbolehkan jamaah berdiri atau duduk berlama-lama di depan makam nabi, niscaya semuanya ingin duduk bersimpuh bersalawat di depan makam nabi. Akan tetapi sang asykar dengan sigap melarangnya, dan menyuruh untuk terus berjalan dan berjalan dalam berdesakan itu segera keluar dari mesjid. Hal ini wajar agar aliran lautan manusia itu peziarah itu berjalan tertib. Lebih jauh adalah agar tidak terjadi kekeliruan keyakinan dalam bersholawat dan bersalam pada baginda rosulullah saw.
Empat belas abad sudah jarak kehidupan kita ini dengan masa hidup rosulullah saw. Rekam jejak beliau pun dapat kita telusuri secara nyata, pada saat diantara kita melakukan ibadah haji maupun umroh; rumah tempat kelahirannya yang sekarang menjadi gedung perpustakaan, jabal nur tempat ketika beliau merenung memikirkan ummatnya dan akhirnya menerima wakyu yang pertama di gua hira, kemudian sebuah gua di puncak jabal tur tempat persembunyian beliau bersama Abu Bakar, ketika melakukan perjalanan hijrah dari mekah ke madinah, dan berbagai situs-situs perjuangan syiar Islam beliau.
Tinggalan terindah bagi kita adalah syariat Agama Islam, yang oleh Allah swt ditegaskan sebagai agama yang sempurna, penyempurna dari ajaran tauhid pada nabi-nabi sebelumnya. Allah swt menegaskannya di dalam Al Qur’an; “pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, telah Ku ridloi Islam itu jadi aga bagimu” (QS, 5:3)
Kecintaan kita kepada Nabi Muhammad saw adalah dengan cara memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam dengan sebaik-baiknya, dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara, bahkan kehidupan global. Agama Islam melalui ajaran Al Qur’an dan Al Hadits, telah secara komprehensif mengatur seluruh tata kehidupan manusia di muka bumi ini, yang tidak akan lekang oleh batasan ruang dan waktu. Menarik apa yang katakan oleh Prof Hamilton Alexander Rossken Gibb (HAR Gibb) dalam karya Whiter Islam, a survey of Modern Movements in the Moslem World, ditegaskan bahwa “Islam is indeed much more than a system of theology, it’s a complete civilization”.
![]()