Oleh: Prof Dr. Masrukhi, M.Pd. (Guru Besar Unnes-Rektor Unimus Semarang)

Khusyu’ betapa sangat penting dalam kita beribadah kepada Allah swt. Khusyu’ di dalam salat misalnya, akan menjadikan kita seolah sedang melakukan audiensi dengan Allah swt, melakukan dialog dan mencurahkan segala persoalah hidup.

Menurut penuruturan seorang teman saya, sebuah pelajaran penting dari permainan tenis, bahwa di dalamnya dibutuhkan konsentrasi penuh. Dengan konsentrasi yang baik dan tanpa gangguan suara bising maka akan dapat sempurna memainkan bola, bagaimana memukul dengan spin, smash, placing, dan sebagainya. Dengan permainan dalam kondisi yang penuh konsentrasi ini akan memuculkan pukulan-pukulan yang indah dan mematikan lawan.

Sejenak saya tertegun dengan penjelasan sang teman pemain tenes tersebut. Pantas saja, ketika menonton pertandingan tenes kelas dunia di televisi, penonton akan memberikan tepuk tangan meriah tat kala jeda saja dalam waktu-waktu permainan. Saat permainan berlangsung suasana sangat hening, tidak ada satu pun penonton yang bertepuk tangan atau berteriak-teriak di lapangan, apalagi suara musik. Semua ini untuk memberikan kesempatan kepada pemain yang sedang berlaga agar konsentrasi penuh, memainkan pertandingan tenes.

Saya teringat akan sebuah buku berjudul The Power of Focus yang disusun oleh tiga penulis terkenal Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Les Hewitt.Buku ini dicetak pertama kali di tahun 2001, yang kemudian mengalami cetak ulang untuk beberapa edisi. Isi buku ini sangat menginspirasi pembacanya untuk meniti karir mencapai kesuksesan, dengan focus, dengan konsentrasi yang penuh terhadap sesuatu yang digelutinya itu. Buku ini menggambarkan ketidakfokusan bisa dianalogikan seperti uap air yang naik dari panci mendidih, bergerak-gerak tanpa fokus yang pasti, yang pada akhirnnya tidak akan berdampak apa pun. Akan tetapi uap bergelombang yang keluar melalui sebuah mesin turbin bertenaga yang fokus, ia bisa menjadi sumber daya bagi kendaraan agar bergerak. Demikian juga digambarkan sinar yang bergerak-gerak dari pijar api menyala adalah suatu hal yang tidak focus, dan tidak menghasilkan sesuatu yang dahsyat. Akan tetapi sinar yang muncul dari sebuah sinar laser yang focus, akan memiliki kemampuan besar sampai bisa digunakan untuk memotong baja.

Akan halnya kita sebagai seorang muslim, perlu focus, konsentrasi penuh dalam melaksanakan ibadah kepada Allah swt. Di dalam beribadah menurut ajaran Islam, kita mengenal terminologi khusyu’ yang substansinya sama dengan focus. Sangat indah ketika Ibnu Rajab Al Hambali memberikan gambaran tentang makna khusyu’ seperti yang diterangkan dalam kitabnya Al Khusyu’ fi Ash-Shalah. Menurut beliau, khusyu’ adalah kelembutan hati, ketenangan sanubari yang berfungsi menghindari keinginan keji yang berpangkal dari memperturutkan hawa nafsu hewani, serta kepasrahan di hadapan Ilahi yang dapat melenyapkan keangkuhan, kesombongan dan sikap tinggi hati. Dengan itu, seorang hamba akan menghadap Allah dengan sepenuh hati. Ia hanya bergerak sesuai petunjuk-Nya, dan hanya diam juga sesuai dengan kehendak-Nya.

Ada tingkatan khusyu’ yang bisa dirasakan oleh seseorang, mulai dari merasakan gemetarnya hati, merindingnya kulit, munculnya tangisan secara tiba-tiba, lembutnya hati, rasa ketenangan, rasa ketawadhu’an, serta rasa ketenteraman. Fenomena ini kerapkali kita alami, pada saat-saat tertentu kita menghadap Allah swt. Hampir semua jamaah haji atau umroh, ketika pertama kali memasuki pelataran masjid Al Haram melihat Ka’bah, tergetar hatinya, merinding kulitnya, dan tiba-tiba menangis sejadi-jadinya. Itulah contoh kekhusyu’an dalam ibadah kepada Allah swt.

Meminjam terminologi Bahasa Arab, khusyu’ berarti al-inkhifaadh (merendah), adz-dzull (tunduk), dan as-sukuun (tenang). Kekhusyu’an di dalam salat adalah anakala merasakan kehadiran Allah SWT yang amat dekat, sehingga hati dan jiwanya merasa tenang dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia sedikit pun. Kita benar-benar menjaga adab dan sopan santun di hadapan Allah SWT. Hal ini dilakukan sejak takbirotul ikhrom sampai mengucapkan salam sebagai tanda mengakhiri salat.

Dalam Al-Qur’an kata khusyu’ disebutkan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata yang berbeda. Meskipun sebagian besar ditujukan kepada manusia namun ada juga sebagian ayat yang menyatakan bahwa khusyu’ berlaku juga untuk benda-benda yang lain seperti gunung dan bumi. Salah satunya adalah terdapat dalam surat Al Baqoroh (QS, 2 :45) yang menegaskan “Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya yang demikian itu amatlah berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu”. Ayat inimemberikan pelajaran bahwa khusyu merupakan prasyarat agar seseorang itu bisa bersabar dan menjalankan shalat di dalam meminta perlindungan kepada Allah swt.

Khusyu’ memang tidaklah menjadi syarat dan rukun shalat. Artinya orang yang shalatnya tidak khusyu’ tetap diannggap sah secara syar’i sepanjang memenuhi syarat dan rukunnya. Akan tetapi kehusyu’an akan menjadikan shalat yang dikerjakannya itu menjadi lebih berkualitas.

Seperti digambarkan dalam buku the power of focus di atas, bahwa sinar yang terfocus dengan baik yang muncul dari sebuah sinar laser, akan memiliki kemampuan besar sampai bisa digunakan untuk memotong baja. Begitu juga kekhusyu’an di dalam shalat, akan menghantarkan kepada ibadah yang sempurna, yang mampu menggerakkan suara hati nurani untuk berbuat kebajikan, menjunjung tinggi syariat Allah baik dalam aspek ritualitas maupun aspek sosial.

Dengan shalat yang dijiwai oleh kekhusyu’an akan melahirkan buah-buah ibadah, yang wujudnya berupa perilaku kesalehan; kebermanfaatan dan kebermaknaan bagi masyarakat sekitar. Itulah makna dari ayat lain tentang shalat, bahwa shalat itu akan menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar. Subkhanallah.

Loading