Di halaman Unimus terdengar langkah-langkah teratur langkah para pendekar muda yang sedang menyiapkan diri, bukan hanya untuk berlatih, tetapi untuk ditempa. Pagi cerah saat matahari perlahan naik di Unimus, di arena latihan kedatangan tamu istimewa dari negeri jauh. Mr. Gijs Alber, seorang pelatih Tapak Suci berkebangsaan Belanda, hadir dengan sabuk biru yang melingkar di pinggangnya, tanda seorang kader muda yang terus bertumbuh dalam proses pembelajaran dan pengabdian. Kehadirannya menjadi penegas bahwa Tapak Suci telah melampaui batas geografis. Ia tidak lagi hanya berakar di Indonesia, tetapi telah mendunia dan go internasional, berkembang di berbagai negara sebagai warisan pencak silat yang membawa nilai luhur Islam, disiplin, dan kemanusiaan.

Setiap Ahad pagi, tepat pukul 06.00, halaman Unimus menjadi ruang pembentukan karakter, dengan pelatih Pendekar Muhammad Munsyarif. Latihan rutin Tapak Suci dilaksanakan dengan konsisten, seperti denyut nadi yang menjaga kehidupan sebuah sistem. Di sana, keringat bukan hanya bukti kerja fisik, tetapi saksi bisu dari proses pembelajaran mental: bangkit setelah jatuh, tenang di bawah tekanan, dan setia pada proses.
Dalam Tapak Suci, jenjang sabuk bukan sekadar penanda kemampuan teknik. Ia adalah perjalanan nilai dan karakter. Dimulai dari sabuk dasar sebagai simbol kesucian niat dan kesiapan belajar, berlanjut ke jenjang berikutnya; kuning, biru hingga tingkat lanjut hitam yang mencerminkan kematangan fisik, mental, dan spiritual. Setiap sabuk mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati.

Pembangunan karakter dalam Tapak Suci berjalan seiring dengan visi Unimus sebagai institusi pendidikan yang holistik. Unimus tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan emosional, spiritual, dan sosial. Dalam perspektif sistem, Tapak Suci menjadi bagian penting dari ekosistem kampus, menghubungkan nilai kemuhammadiyahan, kedisiplinan, kepemimpinan, dan semangat juang dalam satu kesatuan yang utuh.
Tapak Suci yang kini telah dikenal di tingkat internasional menjadi jendela diplomasi budaya dan nilai. Dari halaman Unimus, semangat itu dilatih dan disemai mempersiapkan mahasiswa menjadi duta karakter bangsa, yang mampu berdiri sejajar di kancah global tanpa kehilangan jati diri.

Dorongan kuat terus mengalir dari pimpinan Unimus. Prof. Masrukhi secara konsisten mendorong agar Tapak Suci di Unimus terus berkembang, berprestasi, dan berkontribusi luas. Dukungan ini menegaskan bahwa Tapak Suci bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan wahana strategis pembinaan karakter dan mental juang mahasiswa.
Maka setiap Ahad pagi, ketika matahari kembali menyapa halaman Unimus, latihan Tapak Suci bukan sekadar rutinitas. Ia adalah ikhtiar yang berulang, nilai yang ditanamkan, dan harapan yang ditumbuhkan. Dari Unimus, Tapak Suci terus melangkah mengakar kuat di tanah sendiri, dan menjulang di panggung dunia.
Semarang 1 Feb 2026
Muhammad Yusuf, PhD
Wakil Rektor Kerjasama
![]()