Semarang — Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menyelenggarakan pelatihan dan penanganan mahasiswa disabilitas sebagai upaya memperkuat layanan kemahasiswaan yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) Universitas Gadjah Mada, Wuri Handayani, serta dihadiri Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Eny Winaryati, Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan (BAK) Fitria Fatichatul Hidayah, pimpinan fakultas, dan dosen perwakilan Mahasiswa Relawan di lingkungan UNIMUS.

Berikan sambutannya, Wakil Rektor III menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat memberikan pencerahan sekaligus penguatan kapasitas sivitas akademika dalam menangani mahasiswa disabilitas secara komprehensif. Ia menegaskan bahwa bidang kemahasiswaan memiliki tanggung jawab luas, mulai dari penanganan berbagai persoalan mahasiswa hingga pembinaan prestasi.
“Perkembangan teknologi membawa tantangan baru, mulai dari fenomena judol, pinjol, hingga kebutuhan layanan khusus bagi mahasiswa disabilitas. Hal ini menjadi perhatian besar karena berdampak jangka panjang terhadap kualitas layanan kemahasiswaan,” ujarnya.


Menurutnya, melalui fasilitasi BAK dan penguatan delapan pilar layanan kemahasiswaan, penanganan berbagai isu dapat ditata secara sistematis. Program ini diawali dari tingkat program studi, kemudian ditarik ke level universitas untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Kegiatan ini juga menekankan peran strategis mahasiswa relawan dalam gerakan sosial kampus, khususnya sebagai relawan pendamping disabilitas. Keberadaan relawan dinilai mampu menjadi inspirasi sekaligus wujud nyata kepedulian mahasiswa dalam membantu sesama.


“Relawan adalah mereka yang memiliki semangat membantu orang lain. Semoga kegiatan ini menjadi ladang pahala sekaligus meningkatkan sensitivitas kita terhadap keberagaman disabilitas, baik motorik, mental, maupun sosial,” tambahnya.


Sementara itu, Wuri Handayani dalam pemaparannya menjelaskan konsep layanan pendidikan inklusif dan strategi pelatihan serta pendampingan mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi. Ia menekankan bahwa pendampingan tidak hanya berfokus pada akses fisik, tetapi juga mencakup dukungan akademik, psikososial, serta penguatan kemandirian mahasiswa disabilitas.


Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dosen dan tenaga kependidikan dalam memberikan layanan yang ramah disabilitas, sekaligus memperkuat komitmen UNIMUS dalam mewujudkan kampus inklusif yang adaptif terhadap keragaman kebutuhan mahasiswa.

Reportase Humas Unimus (tri)

Loading