Oleh: Prof Dr. Masrukhi, M.Pd. (Guru Besar Unnes-Rektor Unimus Semarang)

Tepat di belakang Masjid Muhammadiyah Jawa Tengah kampus Unimus, terdapat lapangan tenis yang cukup representatif. Lapangannya standar flexi, dengan pepohonan yang rimbun di sekelilingnya. Siapa pun yang lewat akan tergoda untuk turun ke lapangan dan bermain tenis lapangan. Beberapa pejabat dan beberapa rektor sempat bermain tenis di lapangan tenis Unimus. Terkadang pula persoalan penting dengan mitra cukup diselesaikan di lapangan, dengan bermain tenis bersama.

Di saat ramadhan seperti sekarang ini, kegiatan tenis tetap berjalan setiap hari, yang dimulai tepat setelah salat ashar sampai datangnya waktu maghrib, diakhiri dengan berbuka bersama di lapangan tenis. Ada ketuntungan ganda, bahwa selain bermain tenis, juga sambil mendengarkan taushiyyah ramadhan dari speaker mesjid kampus, sehingga diperoleh dua keuntungan, yaitu badan menjadi segar dan sehat, serta rokhani kita pun terisi oleh penceramah ramadhan di mesjid Unimus.

Bermain tenes di bulan suci Ramadhan, sudah tentu tanpa meninggalkan amaliah ritual keIslaman, seperti tadarrus, pengajian, dzikir, dan sejenisnya. Bermain tenes menjadikan badan sehat, dan ketika kondisi badan sehat menjadikan amaliah ramadhan kita terlaksana dengan baik.

Dari perbincangan teman-teman sesama pemain, mereka merasakan kondisi fisik yang lebih sehat ketika berpuasa. Kaki dan lutut yang biasanya kaku dan pegal-pegal, justru menghilang ketika puasa. Gula darah, trigliserit, dan kolesterol menjadi normal, sehingga untuk berjalan, berlari mengejar bola menjadi terasa ringan.

Berpuasa itu menyehatkan, celoteh teman-teman di lapangan tenis. Memang demikian adanya, penulis sendiri juga merasakan hal yang sama. Ringan dan sehat saja rasanya dalam bermain tenis ketika melaksanakan ibadah puasa. Sudah tentu permainan tenisnya dilaksanakan sore hari setelah salat ashar sampai menjelang adzan maghrib.

Secara medis, ketika kita melaksanakan puasa, maka badan akan terasa lemas terutama di siang hari antara pukul 12.00 sampai 18.00. Saat itu pada tubuh kita sedang terjadi proses autolisis, yaitu proses pembuangan sel-sel yang mati atau rusak di dalam tubuh kita.

Dengan adanya proses autolisis yang oleh sebagian ahli dipandang sebagai program pengaturan mekanisme selular organ-organ tubuh ini, autolisis akan berfungsi dalam pembuangan sel-sel yang sudah rusak dan mati, sehingga lebih lanjut akan berperan dalam pencegahan berbagai gangguan dan penyakit yang berkaitan dengan zat-zat toksik yang kita dapatkan setiap hari lewat asupan makanan kita.

Proses autolisis yang sebenarnya baru dimulai sebagai reaksi tubuh setelah 2-3 hari berpuasa di saat tubuh mulai mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme yang tak diperlukan lagi ini biasanya dibarengi dengan gejala yang menyerupai gejala penyakit dan dikenal sebagai krisis detoksifikasi atau krisis penyembuhan, namun sama sekali tak perlu diredam dengan medikasi karena memang bukan gejala penyakit. Ini biasanya terlihat dari kelesuan dan rasa mengantuk hebat memasuki awal puasa.

Dalam keseharian, ketika kita tidak berpuasa, organ pencernaan hampir tidak pernah berhenti bekerja. Pada setiap kali kita mengkonsumsi makanan (makan besar), maka dibutuhkan waktu sekitar 8 jam organ pencernaan kita untuk bekerja untuk mengurai makanan menjadi energi. Jika kita sarapan pukul 07.00 di pagi hari, maka kemudian organ kita bekerja dan baru selesai sekitar pukul 15.00. Padahal kemudian pada umumnya kita makan siang pukul 12.00 di siang hari. Dengan demikian organ kita akan bekerja sampai jam 20.00. Padahal pula pada pukul 19.00 kita pun melakukan makan malam. Belum dihitung juga asupan yang diperoleh dari makanan ringan.

Pada saat kita melaksanakan ibadah puasa, jika makan sahur dilakukan pada jam 04.00 dinihari, maka organ akan bekerja sampai pada pukul 12.00 siang hari. Setelahnya makan, organ akan istirahat bekerja dan terjadilah yang disebut dengan proses autolisis.

Di Jerman terdapat sebuah rumah sakit dengan treatmen puasa, didirikan sejak penghujung perang dunia II. Kini pengelolaan rumah sakit tersebut sudah ditangani generasi ke tiga. Rumah sakit tersebut didirikan oleh sang kakek, yang ketika itu menderita kanker. Saat itu tidak ada seorang dokter pun yang mampu menanganinya. Hingga suatu hari ada yang menasehatinya agar menjalankan puasa. Diapun mempraktekkan puasa itu. Dan ternyata dengan puasa itu dia sembuh. Setelah sembuh itulah dia mendirikan rumah sakit tersebut. Hingga saat ini masih beroperasi di bawah asuhan cucu sang pendiri.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh, rosulullah saw bersabda shuumu tashihhu (HR Ath Thobroni dalam Mu’jam al awsath). Hadits ini cukup pendek, yang berarti berpuasalah niscaya kamu akan sehat.

Secara periwayatan, hadis ini tergolong lemah (dlo’if). Namun demikian secara substansi, hadits ini tidak bertentangan manfaat ibadah puasa itu sendiri yaitu meraih kesehatan spiritual dan fisik. Berbagai riset bidang kesehatan pun, menyimpulkan bahwa ibadah puasa dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau imunitas.

Di dalam Al Qur’an sendiri Allah swt menegaskan dalam rangkaikan ayat yang mewajibkan untuk berpuasa terdapat petikan “dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS Albaqarah: 184).

Maka berpuasa dan tetap berolah raga dengan penyesuaian waktu dan ritme, menjadi kegiatan yang mengasyikkan di bulan suci Ramadhan, selain sudah tentu aktifitas tadarrus, dzikir, sedekah, kajian keIslaman, dan silaturahmi.

Loading