Prof. Dr. Kuncoro Dihardjo, MT memaparkan materi di depan peserta seminar

Semarang │(07/10/2017) Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) mengadakan kegiatan Seminar Nasional Sains dan Pendidikan dengan tema “Peningkatan kualitas pembelajaran melalui lesson study berbasis informasi saintek untuk menumbuhkan technopreuner” pada hari Sabtu, 07 Oktober 2017. Kegiatan yang bertempat di Aula Unimus tersebut menghadirkan empat orang pembicara nasional yaitu Dr. Muhammad Nur., DEA (dosen FMIPA Undip pakar teknologi plasma), Dekan FMIPA Unimus Dr. Eny Winaryati, MPd, Dr. Margo Yuwono., Msi (Kepala BPS Jateng) dan Prof. Dr Kuncoro Dihardjo, MT (UNS). Kegiatan dibuka oleh Dekan FMIPA dan diikuti oleh 375 peserta dari 5 propinsi di Indonesia terdiri dari guru, dosen dan mahasiswa. Kegiatan Seminar Nasional yang diselenggarakan ini merupakan wujud kontribusi fakultas dan program studi pengembangan ilmu, peningkatan kualitas pembelajaran dan peningkaan suasana akademik.

Penyampaian materi oleh pakar teknologi plasma Indonesia Dr. Muhammad Nur, DEA

Berbagai poin penting disampaikan oleh pembicara dalam seminar tersebut. Prof. Dr Kuncoro Dihardjo, MT membagi berbagai strategi yang bisa ditempuh oleh kampus untuk mengembangkan jiwa technopreuner pada mahasiswa. Sementara Dr. Muhammad Nur DEA menyampaikan bahwa anak atau siswa harusnya dikenalkan science (ipteks) sejak muda dan berupaya bagaimana science selalu “hidup” dalam diri tiap anak, serta menjadikan science yang selalu bermuara pada produk. Tiap guru atau pendidik juga harus menanamkan jiwa berpikir kritis pada anak sejak kecil. “Bila cara ini ditempuh maka hasilnya akan baik. Tiap pendidik juga harus memahami kalau pendidikan untuk generasi sekarang atau Genarasi Y harus bersifat kreatif, bebas dan lain lain sesuai dengan karakter generasi ini. Peran pendidikan hanya mengasih peluang atau challenge saja. Janganlah memperlakukan anak sekarang dengan jaman dulu atau jaman saat para guru generasi X atau satu tingkat generasi sebelumnya (generasi baby boomer) menjalani masa mudanya” tambah pakar teknologi plasma di Indonesia tersebut. Lebih lanjut Muhammad Nur menyampaikan baha aada 7 kebiasaan untuk berpikir kreatif. Meliputi keluar dari kotak pembatas  (out of the box), menerima adanya gangguan (welcoming chance of intrusions), kedalaman pikiran (listening to depth mind),menuda keputusan (suspending judgement), melakukan persamaan/analogi (stepping stone analogy), menerima tafsir ganda/ambiguitas (tolerating ambiguity) dan mengumpulkan ide (ideas banking).

Pemaparan materi tentang Lesson Study oleh Dr. Eny Winaryati, MPd

Disampaikan pula oleh  Dr. Eny Winaryati, MPd lewat seminar nasional yang diikuti para guru PAUD dan SD Aisyiyah se Jateng ini bahwa pendidikan pada anak juga sebaiknya menggunakan Lesson Study seperti yang telah puluhan tahun lalu dilakukan negara Jepang sehingga menghasilkan lulusan sangat unggul di bidang ipteks. “Pengajaran lewat lesson study sangat pas untuk pembelajaran dan pegajaran di abad 21 ini karena bisa menyesuaikan tuntutan para siswa abad ini yang memiliki ciri-ciri multi tasking, mencari info apapun dari online serta bersifat “multi media” tambah Dr. Eny Winaryati.

Kegiatan seminar nasional  juga diisi dengan publikasi ilmiah hasil-hasil penelitian dan pengabdian masyarakat oleh dosen dan mahasiswa. Seminar nasional diakhiri dengan lomba penulisan karya ilmiah terbaik di bidang pengajaran dan lomba praktek mengajar inovatif kreatif yang diikuti oleh 65 guru dan kepala sekolah SD dan PAUD Aisyiyah se-Jawa Tengah.

Reportase UPT Kehumasan & Protokoler.

Loading