Semarang | Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik terus berkembang dan membuka peluang baru bagi dosen maupun mahasiswa untuk meningkatkan produktivitas penelitian. Namun, teknologi tersebut perlu ditempatkan sebagai alat bantu yang memperkuat proses berpikir, bukan menggantikan peran peneliti.
Pesan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Coaching Clinic Penulisan Manuskrip Artikel Ilmiah Menuju Jurnal Terindeks SINTA dan Scopus yang diselenggarakan PPG Fakultas Ilmu Pendidikan dan Humaniora (FIPH) Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS). Setelah berlangsung di Ruang 811 GKB 2 UNIMUS pada Jumat (14/8/2026), rangkaian kegiatan dilanjutkan di Hotel MG Setos Semarang pada Sabtu (15/8/2026).

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi dari Ahmad Fauzi, M.Pd., mengenai pemanfaatan AI untuk mendukung penulisan artikel ilmiah. Sementara pada hari kedua, Prof. Yudhi Arifani, M.Pd., memberikan penguatan mengenai strategi membangun penelitian dan manuskrip yang memiliki potensi menuju jurnal internasional bereputasi.
Dekan FIPH UNIMUS, Prof. Dr. Dodi Mulyadi, M.Pd., menilai AI dapat menjadi kolaborator akademik yang membantu mempercepat proses membaca literatur, memahami artikel internasional, melakukan brainstorming, hingga menyusun draft awal.
“AI itu adalah kolaborator terbaik untuk sekarang supaya kita bisa meningkatkan kemampuan, termasuk kemampuan menulis. Tetapi AI sebagai kolaborator, bukan mencari fakta atau data. Kita tetap harus melakukan validasi,” tegas Prof. Dodi.

Menurutnya, penulis tetap memiliki tanggung jawab penuh terhadap isi artikel. Setelah mendapatkan bantuan AI, peneliti harus membaca kembali, melakukan validasi, memperbaiki bagian yang tidak sesuai, dan memastikan seluruh gagasan benar-benar dipahami oleh penulis.
“Yang penting kita tahu isinya. Kita yang bertanggung jawab, kita tahu isi semuanya,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Wakil Rektor III UNIMUS, Dr. Eny Winaryati, M.Pd. Menurutnya, penggunaan teknologi dalam penulisan ilmiah tetap harus diikuti proses membaca, menelaah, serta melakukan cross-check terhadap berbagai sumber jurnal.
Dr. Eny menilai coaching clinic tersebut memiliki keunggulan karena diarahkan pada luaran nyata. Setiap peserta didorong untuk menghasilkan artikel yang dapat dikembangkan menuju publikasi Scopus, bukan sekadar memperoleh pengetahuan dari kegiatan pelatihan.
“Yang paling utama adalah ada hasil yang kita dapatkan. Produknya harus ada luaran, termasuk kolaborasi riset atau kolaborasi artikel,” jelasnya.

Kegiatan juga memperkuat kolaborasi antarinstitusi dengan melibatkan peserta dari UNIMUS, Universitas Islam Sultan Agung (UNISULA), dan Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta. Kolaborasi tersebut diharapkan berkembang menjadi kerja sama penelitian maupun penulisan artikel ilmiah bersama.
Tidak hanya antardosen, kolaborasi juga diarahkan antara dosen dan mahasiswa. Salah satu peluang yang dikembangkan adalah mengolah pengalaman mahasiswa selama Program Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah menjadi artikel ilmiah. Mahasiswa dapat terlibat sebagai penulis utama, sementara dosen mendampingi sebagai corresponding author.
Model tersebut memberikan manfaat ganda. Bagi mahasiswa, pengalaman lapangan tidak berhenti sebagai bagian dari kewajiban akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah. Bagi dosen, keterlibatan mahasiswa membuka ruang kolaborasi sekaligus memperkaya bahan penelitian yang relevan dengan persoalan pendidikan di lapangan.

Melalui kegiatan ini, PPG FIPH UNIMUS mendorong pemanfaatan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab sekaligus memperkuat budaya penelitian kolaboratif. Teknologi diposisikan sebagai sarana untuk mempercepat kerja akademik, sementara gagasan, validasi, analisis, dan tanggung jawab ilmiah tetap berada pada peneliti.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen UNIMUS dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan menggabungkan literasi digital, kemampuan riset, kolaborasi, dan publikasi bereputasi, dosen dan mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya terbit, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Indonesia.
![]()