Semarang – Peluang kerja bagi tenaga terampil Indonesia di luar negeri terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja global. Kondisi tersebut mendorong perguruan tinggi untuk mengambil peran dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kunjungan Balai Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Jawa Tengah ke Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Rabu (2/9/2026). Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Rektorat Lantai 2 UNIMUS dan disambut Wakil Rektor IV UNIMUS, M. Yusuf, Ph.D., bersama jajaran dekan, wakil dekan, ketua program studi, serta staf International Relations Office (IRO) UNIMUS.

Kunjungan tersebut menjadi ruang penjajakan kolaborasi antara BP2MI Jawa Tengah dan UNIMUS, khususnya dalam pengembangan kapasitas calon pekerja migran Indonesia, penyediaan informasi peluang kerja luar negeri, serta penguatan kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki pasar kerja global.
Kepala BP2MI Jawa Tengah, Dewi Ariani, S.H., menjelaskan bahwa BP2MI Jawa Tengah merupakan unit pelayanan teknis yang memberikan pelayanan terkait pelindungan maupun proses penempatan bagi calon pekerja migran Indonesia dan pekerja migran Indonesia di wilayah Jawa Tengah.
Menurutnya, salah satu program yang dapat dikembangkan bersama perguruan tinggi adalah Migrant Center. Program tersebut dirancang untuk membangun pusat informasi dan pengembangan kapasitas terkait peluang kerja luar negeri di lingkungan perguruan tinggi.

“Program Migrant Center ini bekerja sama dengan perguruan tinggi. Harapannya di Migrant Center ini nanti semua informasi kaitannya dengan peluang kerja ataupun peningkatan kapasitas itu ada di perguruan tinggi,” jelas Dewi.
Ia menambahkan, keberadaan Migrant Center tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa perguruan tinggi tempat program tersebut berada, tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat melalui akses informasi, peningkatan kapasitas, serta dukungan sarana yang menunjang persiapan calon pekerja migran.
Selain pengembangan pusat informasi, Dewi menyampaikan bahwa pemerintah juga tengah mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja internasional.
Ia menjelaskan adanya program nasional untuk mempersiapkan peluang penempatan 500.000 tenaga kerja di luar negeri. Menurutnya, peluang tersebut harus diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia, terutama dari sisi kompetensi.
“500.000 ini sebenarnya untuk bekerja di luar negeri bukan menjadi saham pemerintah, tapi menjadikan peluang bagi masyarakat yang ingin bekerja,” ungkapnya.
Dewi menegaskan bahwa kompetensi menjadi salah satu persyaratan penting untuk dapat bersaing dan bekerja di luar negeri. Karena itu, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan vokasi, lembaga pelatihan, lembaga sertifikasi, dan dunia industri menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem penyiapan tenaga kerja migran yang kompeten.
“Program ini tidak bisa bergerak sendiri. Bersinergi baik dengan pihak terkait, pemerintah daerah, ini kita wajib lakukan,” katanya.
Dalam ekosistem tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam memberikan penguatan kompetensi, khususnya melalui pendidikan vokasi, pelatihan, sertifikasi kompetensi, maupun pengembangan kapasitas mahasiswa dan lulusan.
Dewi menyampaikan bahwa proses penyiapan calon pekerja migran perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, penguatan, hingga evaluasi. Pendidikan vokasi, pelatihan vokasi, dan sertifikasi kompetensi diharapkan dapat berjalan sebagai satu kesatuan agar calon pekerja migran tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga memiliki bukti kompetensi yang dibutuhkan sebelum ditempatkan.
“Pendidikan vokasi, pelatihan vokasi, dan sertifikasi kompetensi ini menjadi satu kesatuan,” tuturnya.
Menanggapi peluang tersebut, Wakil Rektor IV UNIMUS, M. Yusuf, Ph.D., menyampaikan bahwa UNIMUS merupakan perguruan tinggi yang terus berkembang dengan ekosistem akademik yang beragam. Saat ini UNIMUS memiliki 9 fakultas dan 48 program studi yang dapat menjadi potensi untuk pengembangan berbagai bentuk kerja sama.
M. Yusuf menegaskan keterbukaan UNIMUS dalam membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga dan mitra strategis. Menurutnya, jejaring yang dibangun perlu diarahkan pada program yang dapat berkembang dan memberikan manfaat nyata.

“Kami berharap nanti bisa berkembang apa yang kira-kira nanti bisa kita bersama, dan kita mau bersama-sama berkembang,” ujar M. Yusuf.
Ia juga memperkenalkan sejumlah fasilitas yang dimiliki UNIMUS sebagai bagian dari ekosistem pendidikan, termasuk fasilitas kesehatan serta berbagai potensi akademik yang dapat mendukung pengembangan kerja sama.
Dalam konteks internasionalisasi, keberadaan International Relations Office (IRO) UNIMUS juga menjadi salah satu bagian penting dalam membangun jejaring dan membuka peluang kerja sama yang memiliki dimensi global.
Pertemuan UNIMUS dan BP2MI Jawa Tengah diharapkan menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi bentuk kolaborasi yang lebih konkret, termasuk peluang pengembangan Migrant Center di lingkungan perguruan tinggi, peningkatan kapasitas mahasiswa dan lulusan, serta penyediaan informasi mengenai peluang kerja dan kebutuhan kompetensi di luar negeri.
Kolaborasi tersebut sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing di pasar kerja global. Pendidikan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi juga kompetensi, sertifikasi, pengalaman, dan kesiapan menghadapi kebutuhan dunia kerja yang semakin terbuka.

Melalui sinergi antara UNIMUS dan BP2MI Jawa Tengah, peluang mobilitas tenaga kerja Indonesia ke tingkat global diharapkan dapat diikuti dengan kesiapan kompetensi dan perlindungan yang memadai. Upaya tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan mampu mengambil peluang di tengah perubahan kebutuhan tenaga kerja dunia.
![]()