Semarang | Perkembangan teknologi digital membuat akses terhadap informasi keagamaan semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut juga menuntut kemampuan untuk memilah, memeriksa, dan memahami informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. H. Fachrur Rozi, M.Ag., dalam tausiah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dikemas melalui pengajian Kamis pagi rutin di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS).

Dalam tausiah tersebut, beliau menyoroti perubahan pola masyarakat dalam memperoleh pengetahuan agama. Jika sebelumnya pembelajaran banyak dilakukan melalui majelis ilmu dan kitab-kitab turats, kini berbagai kajian dan informasi keagamaan dapat diakses melalui internet, media sosial, mesin pencari hingga kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, kondisi tersebut menghadirkan tantangan baru karena tidak semua informasi yang beredar di ruang digital memiliki konteks dan landasan keilmuan yang memadai. Karena itu, literasi keagamaan perlu berjalan beriringan dengan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak.

Prinsip tabayun, atau memeriksa kebenaran informasi, menjadi salah satu hal yang ditekankan. Informasi perlu diverifikasi dan dipertimbangkan dampaknya sebelum dibagikan.
“Jangan sampai jempol lebih cepat daripada akal. Jangan sampai kecepatan internet mengalahkan kedalaman ilmu,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya etika dalam menyampaikan kebenaran. Menurutnya, menyampaikan sesuatu yang benar tetap harus dilakukan dengan cara yang santun dan tidak merendahkan orang lain.

Dalam konteks penggunaan AI, teknologi dipandang sebagai alat bantu untuk memperoleh informasi, bukan sebagai otoritas dalam persoalan agama. Informasi yang diperoleh melalui teknologi tetap perlu diverifikasi melalui sumber keilmuan yang dapat dipercaya.

Momentum Maulid Nabi di UNIMUS juga dikaitkan dengan peran kampus dalam membangun karakter mahasiswa. Selain menjadi tempat memperoleh ilmu, kampus diharapkan menjadi ruang untuk menumbuhkan budaya membaca, kecintaan terhadap ilmu, etika komunikasi, serta penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.
Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan nilai-nilai Islam berkemajuan, yakni memadukan kemajuan teknologi dengan kedalaman ilmu dan kematangan akhlak.
![]()