Semarang | Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Rutin menggelar kegiatan Pengajian Kamis Pagi yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan. Kegiatan yang diinisiasi oleh Lembaga Studi Islam Kemuhammadiyahan dan Mata Kuliah Umum (LSIK & MKU) ini berlangsung pada Kamis, 9 April 2026, bertempat di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan prosesi pelepasan calon jamaah haji dari lingkungan Unimus. Pelepasan dilakukan secara resmi oleh Wakil Rektor II Unimus, Dr. Hardiwinoto, M.Si.
Dalam sambutannya, Dr. Hardiwinoto menyampaikan doa dan harapan kepada para calon jamaah haji agar dapat menunaikan ibadah dengan lancar serta meraih predikat haji yang mabrur. Ia juga mendoakan civitas akademika yang belum berkesempatan berhaji agar kelak dapat menyusul. “Kami mewakili pimpinan melepas keberangkatan calon jamaah haji Unimus. Semoga perjalanan ibadah diberikan kelancaran, keselamatan, dan kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur,” ujarnya.


Perwakilan calon jamaah haji, Dr. Bdn. Nuke, turut menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan untuk menunaikan rukun Islam kelima. Ia juga menyampaikan permohonan maaf serta doa restu kepada seluruh civitas akademika.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pimpinan atas izin yang diberikan. Mohon doa agar ibadah haji yang kami jalankan diberikan kemudahan, kelancaran, serta kesehatan dari awal hingga akhir, sehingga dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah, baik yang wajib maupun sunnah,” ungkapnya.


Pengajian kemudian diisi oleh Dr. KH. Hasan Asy’ari Ulama’i, M.Ag., yang dalam tausiyahnya menekankan pentingnya peningkatan ketakwaan setelah bulan Ramadan. Ia mengajak jamaah untuk merefleksikan sejauh mana kualitas ibadah dan amal selama Ramadan berdampak pada kehidupan sehari-hari.


Menurutnya, indikator utama keberhasilan Ramadan adalah meningkatnya ketakwaan, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Ali Imran ayat 133–135, yang mengajak umat untuk bersegera menuju ampunan Allah dengan memperbanyak amal kebaikan. “Ciri orang bertakwa di antaranya adalah dermawan, tidak hanya dalam kondisi lapang, tetapi juga dalam keadaan sempit. Kedermawanan tidak selalu dalam bentuk materi, namun juga kepedulian dan pertolongan kepada sesama,” jelasnya.


Selain itu, ia menambahkan bahwa orang yang bertakwa memiliki kemampuan mengendalikan emosi, bersikap sabar, serta memiliki mentalitas yang baik. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, seharusnya terbentuk selama menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa sifat pemaaf, adil dalam menyeimbangkan hak dan kewajiban, serta senantiasa bertaubat atas kesalahan merupakan karakter lain dari pribadi yang bertakwa. “Momentum Ramadan harus menjadi bekal untuk memperkuat kualitas diri, termasuk dalam mengelola emosi, meningkatkan kepedulian sosial, serta memperbaiki hubungan dengan sesama dan Allah SWT,” pungkasnya.


Kegiatan pengajian ini menjadi sarana pembinaan spiritual bagi civitas akademika Unimus sekaligus mempererat silaturahmi di lingkungan kampus, khususnya dalam menjaga semangat keislaman pasca-Ramadan.

Loading