
Oleh: Prof Dr. Masrukhi, M.Pd. (Guru Besar Unnes-Rektor Unimus Semarang)
Menjelang subuh ramadhan di masjidil haram kota suci Makkah, jamaah sangat penuh berdesakan. Konon jamaah umroh ramadhan 1447 H ini jauh lebih banyak dari jamaah haji. Jika di musim haji quota dibatasi yaitu sekitar 3,5 juta, sedangkan jamaah umroh di bulan ramadhan itu tidak ada pembatasan quota. Siapa pun dan dari mana pun orang mu’min dapat berangkat umroh ramadhan. Sebuah media mainstream di arab Saudi memberitakan jumlah jamaah umroh di bulan ramadhan 1447 H, pada hari ke delapan ramadhan sudah mencapai 11,6 juta. Maka betapa penuh sesaknya suasana masjidil haram dan sekitarnya.
Seorang ibu tengah baya, kalau lihat wajahnya seperti dari Yordania, berjalan membawa setoples kurma. Dia berjalan pelan mengelilingi kabah berlawanan arah dengan jama’ah thowaf, sambil menyodorkan kurma. Dia menyodorkan kurma itu kepada seluruh jamaah yang baru selesai thowaf. Berbondong bondong para jama’ah mengambil satu butir satu butir, sambil senyum sebagai ungkapan terima kasih kepada ibu itu.

Jamaah thowaf yang mengambil kurma sudah tentu dari berbagai bangsa, tidak saling mengenal, tidak saling menyapa, hanya saling senyum. Ibu tengah baya itu pun melayaninya dengan tersenyum sambil terus pelan berjalan, sampai habislah kurma itu.
Barangkali kurma ini menjadi penutup waktu sahur bagi para jamaah karena 10 menit lagi menjelang subuh.
Kurma sebagai buah yang murah dan banyak di dapat di mana pun termasuk di Indonesia, di masjidil haram menjadi wahana persahabatan dunia. Orang dari berbagai negara, kulit putih, hitam, coklat, tua maupun muda, mengambil satu satu utk dimakan, sambil masing masing terulang senyum di bibirnya.
Pemandangan subuh ini begitu mengesankan bagi saya. Teringat sebuah ayat Al Quran “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati” (QS 9: 10).

Berdesakan ketika melaksanakan thowaf ; saling berhimpitan, saling senggol, saling mendorong, bahkan saling bertabrakan, merupakan hal biasa yang terjadi di seputaran ka’bah.
Postur orang Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Asia lainnya relatif kecil dan pendek. Dibandingkan dengan orang-orang Pakistan, Uzbekistan, Sudan, Zimbabwe dan banyak lagi bangsa lain, postur tubuh kita relatif lebih kecil dan pendek. Sehingga dalam adu berdesakan itu pasti mereka yang menang. Saya sendiri lebih suka mengambil posisi di belakang mereka ketika thowaf mengelilingi kabah, sehingga seperti memperoleh pemandu jalan.
Dalam suasana berdesakan saling mendorong, saling tabrakan, dan saling adu kekuatan, satu hal yang terlihat bahwa tidak ada pernah terjadi perkelahian. Mereka kemudian saling senyum apalagi ketika diingatkan sebagai dhuyuufurrohman , meskipun mungkin kesal karena jalannya diserobot. Tidak ada dendam tidak ada marah, yang ada adalah sama sama mengharapkan ridho Allah swt.
Dalam kebersamaan ummat muslim sedunia di masjidil haram ini, semua merasa sangat kecil di hadapan Allah. Kecil kemampuannya, kecil kekuasaannya,kecil kekayaannya. Inilah makna ungkapan laa khaula wala quwwata Illah billahi aliyyil adzim.
Semua manusia sama kedudukannya di hadapan Allah, yang membedakannya adalah ketaqwaan kepada Allah swt.
Kita teringat salah satu pesan rosulullah saw, sa’at melaksanakan haji wada’, sebagai haji perpisahan. Salah satu pesan beliau adalah “Wahai segenap manusia. Sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu adalah satu. Semua kamu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang yang bukan Arab melainkan dengan takwa itulah. Dan jika seorang budak hitam Abyssinia sekalipun menjadi pemimpinmu, dengarkanlah dia dan patuhlah padanya selama ia tetap menegakkan Kitabullah. Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan”
![]()