Di balik melesatnya branding Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) ke panggung global, terdapat satu kekuatan kunci yang sering kali tidak tampak secara kasat mata, namun sangat menentukan: seni komunikasi internasional. Prof. Masrukhi, sebagai Rektor UNIMUS, menunjukkan bahwa diplomasi akademik bukan semata soal dokumen kerja sama atau peringkat global, melainkan tentang kemampuan membangun kepercayaan, kesetaraan, dan visi bersama lintas budaya dan bangsa.

Seni komunikasi internasional Prof. Masrukhi tercermin dari kemampuannya membaca konteks global tanpa kehilangan jati diri institusi. Dalam setiap pertemuan dengan mitra luar negeri baik universitas, lembaga riset, organisasi internasional, maupun komunitas profesional dunia. Prof. Masrukhi selalu menempatkan UNIMUS sebagai mitra yang setara, terbuka, dan solutif. Nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kemuhammadiyahan disampaikan bukan sebagai batas, melainkan sebagai kekuatan moral dan etika global yang relevan di berbagai forum internasional.
Keunggulan lain dari gaya komunikasi Prof. Masrukhi adalah kemampuan menyatukan bahasa akademik dan bahasa implemantasinya . Ia tidak hanya berbicara tentang capaian institusi, indikator kinerja, atau target pemeringkatan, tetapi juga tentang dampak sosial, keberlanjutan, dan kontribusi nyata perguruan tinggi bagi dunia. Pendekatan inilah yang membuat mitra internasional melihat UNIMUS bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan partner strategis dalam membangun masa depan bersama.

Dalam praktik diplomasi akademik, Prof. Masrukhi dikenal piawai mengubah pertemuan formal menjadi relasi jangka panjang. Komunikasi yang hangat, inklusif, dan berbasis saling menghargai menjadi pintu masuk lahirnya berbagai kerja sama konkret: pendanaan Erasmus Plus, konferensi internasional, riset kolaboratif lintas negara, hingga pengakuan organisasi profesi dunia. Seni ini menunjukkan bahwa jejaring global dibangun bukan dengan kecepatan, melainkan dengan ketulusan dan konsistensi.
Prof. Masrukhi juga memiliki sensitivitas tinggi terhadap perbedaan budaya dan cara berpikir global. Dalam interaksi internasional, ia menampilkan fleksibilitas komunikasi dan mampu menyesuaikan gaya bicara, pendekatan, dan narasi sesuai dengan latar belakang mitra. Namun, fleksibilitas ini tidak pernah mengaburkan arah strategis UNIMUS. Justru sebaliknya, ia memperkuat citra UNIMUS sebagai institusi yang matang, percaya diri, dan siap berkompetisi di level dunia.
Yang tak kalah penting, seni komunikasi internasional Prof. Masrukhi diwujudkan melalui keteladanan internal. Ia mendorong sivitas akademika UNIMUS didalamnya adalah dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk berani tampil di forum global, menulis dan berbicara di panggung internasional, serta membangun jejaring lintas negara. Dengan demikian, komunikasi internasional tidak berhenti pada level pimpinan, tetapi menjadi budaya institusi.
Pada akhirnya, seni Prof. Masrukhi dalam menjalin komunikasi internasional adalah seni menjembatani lokalitas dan globalitas. Ia membuktikan bahwa universitas berbasis nilai dapat berdialog secara setara dengan dunia, tanpa kehilangan identitasnya. Dari ruang-ruang pertemuan internasional itulah, UNIMUS terus melangkah mantap dikenal, dipercaya, dan dihormati sebagai bagian dari komunitas akademik global.
![]()