Semarang | Menjadi teladan tidak lahir dalam semalam. Keteladanan tumbuh dari perjalanan panjang, ditempa oleh ujian, dan dibuktikan melalui konsistensi dalam sikap maupun perbuatan.

Pesan tersebut disampaikan Drs. KH. Jumari Al Ngluwari, M.Pd., dalam tausiahnya yang dengan tema “Menjadi Teladan Itu Bukan Karbitan”, di pengajian rutin kamis pagi, yang bertemppat di majis At-Taqwa Muhammadiyah Jateng di dalam komplek kampus Unimus. Kamis (20/8/2026). Beliau mengajak Sivitas Akademika Unimus untuk tidak berhenti pada kekaguman terhadap sosok yang dianggap baik, dan menghadirkan nilai keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Jumari, Rasulullah SAW merupakan contoh nyata bagaimana keteladanan dibangun melalui proses panjang. Jauh sebelum menerima risalah kenabian, masyarakat Quraisy telah mengenal beliau sebagai Al-Amin, sosok yang terpercaya.

Gelar tersebut tidak lahir dari pencitraan. Kepercayaan masyarakat tumbuh dari perjalanan hidup Rasulullah yang dipenuhi kejujuran, amanah, dan akhlak mulia.

Keteladanan itu pun tidak berubah oleh keadaan. Dalam situasi sulit, Rasulullah tetap dikenal sebagai pribadi yang dermawan. Ketika memperoleh kekuasaan, beliau tetap rendah hati. Saat menghadapi perlakuan yang menyakitkan, beliau memilih memaafkan. Bahkan ketika menjadi pemimpin, Rasulullah tetap menempatkan dirinya sebagai pelayan umat.

Di situlah, menurut Jumari, perbedaan antara keteladanan yang sesungguhnya dengan keteladanan yang “karbitan”. Sesuatu yang dibangun secara instan mungkin tampak menarik di permukaan, tetapi belum tentu memiliki kekuatan ketika menghadapi ujian.

Sebaliknya, keteladanan sejati lahir dari karakter yang terus dijaga, baik ketika dilihat maupun tidak dilihat orang lain. Ia tidak bergantung pada situasi, popularitas, maupun pengakuan.

Jumari menegaskan, keteladanan Rasulullah tidak hanya dirasakan oleh umat Islam. Akhlak dan kepemimpinan beliau menjadi bagian dari sejarah kemanusiaan yang terus dipelajari dan dikenang hingga kini.

Al-Qur’an bahkan menegaskan keteladanan tersebut dalam Surah Al-Ahzab ayat 21: “Sungguh, pada diri Rasulullah itu benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.”

Karena itu, menjadi teladan semestinya tidak berhenti pada slogan atau kekaguman. Keteladanan harus hadir dalam tindakan nyata, dimulai dari hal-hal sederhana dan dijaga secara konsisten.

 

Sebab, umat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Lebih dari itu, umat membutuhkan sosok yang mampu menunjukkan kebaikan melalui perilaku dan kehidupannya.

Meneladani Rasulullah, pada akhirnya, bukan sekadar mengagumi sosoknya. Melainkan berusaha menghadirkan kejujuran, amanah, kerendahan hati, kasih sayang, dan kepedulian dalam setiap langkah kehidupan.

Loading