UNIMUS Perkuat Kemitraan Desa, Dorong PPK Ormawa Tak Berhenti Setelah Program Usai

Semarang | Program Penguatan dan Koordinasi Kemitraan Desa Mitra PPK Ormawa 2026 Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) diarahkan tidak sekadar menjadi ruang evaluasi program, tetapi juga pijakan untuk membangun kerja sama yang berkelanjutan antara kampus dan desa. Kegiatan yang menghadirkan kepala desa mitra PPK Ormawa tersebut mempertemukan Unimus dengan sejumlah desa dampingan, yakni Desa Taruman Kabupaten Grobogan, Desa Pringapus, Desa Getasan, Desa Tlogomulyo, serta Desa Tambak Lorok Semarang.

Wakil Rektor III Unimus, Dr. Eny Winaryati, M.Pd., mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam program pemberdayaan masyarakat perlu terus diperluas agar keberadaan organisasi mahasiswa tidak hanya aktif di lingkungan kampus, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Di Unimus ada 56 organisasi mahasiswa. Harapannya, tahun depan PPK Ormawa bisa menjadi kegiatan wajib bagi ormawa, sehingga seluruh kegiatan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Eny, PPK Ormawa merupakan program yang memiliki proses seleksi ketat. Dari sekitar 2.600 proposal yang diajukan perguruan tinggi di Indonesia, hanya sekitar 200 proposal yang dinyatakan lolos, termasuk lima proposal dari Unimus.

“Ini bukan program main-main. Seleksinya dilakukan secara objektif, transparan dan sungguh-sungguh,” katanya.

Ia menilai PPK Ormawa menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus berlatih menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Selama kurang lebih enam bulan berada di desa, mahasiswa tidak hanya menjalankan program, tetapi juga dituntut mampu membangun solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, Eny menekankan agar program tidak berhenti ketika masa pengabdian mahasiswa selesai. Program yang telah dirintis diharapkan dapat dilanjutkan melalui sinergi dengan dosen dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Ketika kegiatan mahasiswa selesai, bukan berarti semuanya selesai. Dosen diharapkan bisa melanjutkan kegiatan di masing-masing desa agar program benar-benar berkelanjutan,” jelasnya.

Program PPK Ormawa di Unimus sendiri menyasar berbagai bentuk pemberdayaan, mulai dari pengembangan desa wirausaha, desa cerdas hingga smart farming. Program tersebut diharapkan mampu menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat, baik dari sisi peningkatan kapasitas maupun kemandirian desa.

Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan (BKA) Unimus, Fitria Fatichatul Hidayah, M.Pd., mengatakan kegiatan penguatan kemitraan merupakan tindak lanjut pelaksanaan PPK Ormawa bersama desa mitra.

Menurutnya, desa mitra memiliki posisi penting dalam menentukan keberhasilan program. Desa tidak ditempatkan sebagai objek kegiatan, melainkan sebagai mitra yang terlibat sejak proses identifikasi masalah, penyusunan solusi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi hingga tindak lanjut.

“Harapannya desa mitra bukan hanya menjadi objek, tetapi menjadi bagian dari proses pemberdayaan. Mulai dari menentukan masalah, mencari solusi, melaksanakan program, monitoring, evaluasi sampai tindak lanjut,” ujarnya.

Fitria menambahkan, keberhasilan program nantinya tidak hanya dilihat dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari dampak yang ditinggalkan. Perubahan kondisi sebelum dan sesudah program menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat apakah program benar-benar memberikan manfaat.

“Buktinya harus terlihat. Ada manfaat dan perubahan yang bisa dirasakan masyarakat setelah PPK Ormawa dilaksanakan,” katanya.

Selain memperkuat program yang telah berjalan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi Abdidaya Ormawa 2026, ajang apresiasi dan kompetisi program pemberdayaan mahasiswa yang mempertemukan perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam konteks tersebut, Unimus mendorong desa mitra untuk semakin aktif mendukung keberlanjutan program. Sejumlah kategori kemitraan yang menjadi perhatian antara lain Mitra Paling Partisipatif, Mitra Paling Inovatif, serta Dukungan Berkelanjutan.

Mitra paling partisipatif dinilai dari keterlibatan desa sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Sementara mitra paling inovatif ditunjukkan melalui kemampuan mendorong lahirnya solusi baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Adapun dukungan berkelanjutan menekankan pada komitmen desa dalam menjamin keberlanjutan program melalui kebijakan, kelembagaan maupun dukungan sumber daya.

Kegiatan penguatan kemitraan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penjajakan dan penguatan kerja sama antara Unimus dan kepala desa mitra.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pemberdayaan yang saling menguatkan. Kampus membawa pengetahuan dan inovasi, sementara desa menjadi ruang nyata bagi mahasiswa untuk menguji sekaligus mengembangkan solusi yang dibutuhkan masyarakat.

Dengan pola kemitraan tersebut, PPK Ormawa Unimus diharapkan tidak hanya menghasilkan program yang selesai dalam satu periode, tetapi mampu meninggalkan perubahan dan menjadi fondasi bagi kerja sama kampus dan desa pada tahun-tahun berikutnya.

Loading