1)Rektor Unimus memberikan sambutan dalam kegiatan Semnas oleh Prodi Gizi Unimus
1) Rektor Unimus memberikan sambutan dalam kegiatan Semnas oleh Prodi Gizi Unimus

UNIMUS | Semarang │(19/12/2015) Program Studi Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menyelenggarakan Seminar Nasional “Pencegahan Penyakit Degeneratif Melalui Kajian Pangan Lokal Sebagai Pangan Fungsional Untuk Investasi Sehat Masa Depan” dengan menghadirkan pembicara Rektor Unimus (Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd.), Prof. Dr. Muhammad Sulchan, M.Sc., DA.,Nutr., Sp.GK., Prof. Dr. Ir. Giyatmi (ahli pangan), Dr. Ali Rosidi, SKM, M.Si. (Doktor gizi olahraga) dan Dr. Yeny Sulistyowati, M.Si. Med. (Doktor kedokteran kesehatan).

2)Keynote speaker dalam kegiatan semnas
2) Keynote speaker dalam kegiatan semnas Gizi Unimus 2015

Indonesia dengan wilayah terluas dan penduduk terbesar di antaranya 10 negara Asean bakalan menjadi “sasaran empuk” pemasaran produk-produk pangan di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Ini bisa terjadi kalau Indonesia tidak bisa berdaulatan pangan dan lebih suka mengimpor berbagai produk pangan ketimbang memproduksi sendiri. Menurut Rektor Unimus, di era MEA yang akan berlaku dalam hitungan beberapa hari ke depan ini, Indonesia dengan jumlah penduduk 242 juta-an ini harus mampu berkedaulatan pangan sehingga tidak jadi pasar empuk bagi 9 negara Asean lainnya di bidang pangan. Dengan luas wilayah dan kekayaan sumber daya alam serta suburnya tanah Indonesia maka seharusnya Indonesia bisa berdaya di bidang pangan, bukan malah impor pangan.
“Selama ini political will pemerintah bidang pangan belum baik, ditambah para pejabat lebih suka impor daripada memberdayakan sendiri pangan Indonesia demi mendapat banyak keuntungan dari mata rantai impor. Juga mis-management dari pemerintah terhadap kebijakan dan proteksi pangan Indonesia. Semuanya harus diubah di era MEA ini bila Indonesia tidak ingin terpuruk di bidang pangan dan menjadi target empuk pasar pangan bagi 9 negara Asean lainnya” ujar Prof Masrukhi.
Lebih lanjut menurut Prof Masrukhi, memang tidak mudah bagi Indonesia untuk segera berdaya di bidang pangan. Dari data Januari sampai Agustus 2015 lalu, ternyata Indonesia banyak mengimpor beras, jagung, kedelai, gandum, terigu, gula pasir, gula tebu dan garam dengan nilai impor mencapai jutaan dolar AS. Namun bila pemerintah mau memulai dengan political will yang baik, kebijakan untuk memberdayakan pangan seraya menghapus impor serta mengurus dengan baik bidang pertanian maka upaya pemberdayaan dan ketahanan pangan bisa dicapai.

“Sekarang ini Indonesia nanggung, negara dengan lahan pertanian luas dan tanahnya subur tetapi bidang pertanian tidak dikembangkan malahan menuju industri tetapi hasilnya industri yang nanggung pula. Lain dengan Jepang sebagai negara industri maju namun pertaniannya juga maju” tandas Masrukhi. [Humas & JIPC)

Link:

1)       http://krjogja.com/read/285063/era-mea-indonesia-wajib-berdayakan-pangan.kr

2)       http://krjogja.com/read/285044/ahli-gizi-perlu-pegang-etika-profesi.kr