
Subuh di tawangmangu memang terasa dingin. Adalah jamaah shubuh dari para pimpinan Muhammadiyah se Jawa Tengah, yang sedang melaksanakan rapat konsolidasi selama dua hari, taggal 17-18 Mei 2026. Menjadi tradisi di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah untuk selalu mengadakan pencerahan, sehingga tidak hanya terjalin silaturrahmi tetapi juga silatulfikri. Selesai salat subuh berjamaah, para jamaah menghendaki ada yang memberikan taushiyyah kuliah subuh. Maka Muhammad Abduh Hisyam wakil ketua PWM Jatwng, berdiri di hadapan jamaah untuk memulai ceramah.
Isi ceramah Pak Abduh ini sangat bernas, mengambil pelajaran dari Nabi Ibrohim as. Kebetulan saat-saat ini bersamaan dengan musim haji di tanah harom,
Nabi Ibrohim setelah diuji dengan berbagai kesulitan (QS 2:124), Allah menetapkan Nabi Ibrohim sebagai pemimpin. Kemudian Ibrohim berdoa untuk menjadikan mekkah sebagai kota yang aman dan makmur. “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir” (QS 2: 126). Doa nabi Ibrohim didengar dan dikabulkan Allah, akan tetapi tidak dengan menjadikannya tanah Mekkah sebagai tanah subur dengan berbagai tumbuhan dan buah-buahan. Kota Mekkah tetaplah batu dan padang pasir yang tandus, yang sulit untuk ditanami.
Kemakmuran yang didatangkan dari Allah adalah dengan berkumpulnya para manusia untuk melaksanakan ibadah haji. Berkumpulkan orang-orang dalam jumlah yang banyak menjadikan diatangkan pula keberkahan, berbagai buah-buahan dan makanan didatangkan dari berbagai penjuru dihadirkan di kota Mekkah. Demikian juga ekonomi masyarakat Mekkah berkembang sangat pesat, sehingga sarana prasarana kota dibangun dengan sangat memadai untuk menjadikan kehidupan di Mekkah aman, nyaman, menarik semua orang.
Maka betapa penting untuk menjadi pelajaran, bahwa keberkahan dan kemakmuran itu data melalui kebersamaan dalam berjamaah. Ini salah satu esensi dalam bermuhammadiyah, yaitu jama’ah, jamiyyah, dan jariyyah, yang kelak akan menghadirkan keberkahan dan kemakmuran.
Ceramah dilanjutkan dengan Mas Fathin Hammam, ketua PDM Kabupaten Tegal. erjami’ah, dan berjariyyah. Tidak kalah bernasnya isi ceramah Mas Fathin ini, yang mengangkat tentang kehidupan yang harus disyukuri, ketika kondisi aman, badan kita sehat wal afiat, serta punya makanan untuk makan hari ini. Kesejahteraan hidup berasal dari tiga hal pokok tersebut. Akan tetapi bagi umat Islam, kebermaknaan hidup harus diwujudkan melalui kebermanfaatannya dalam kehidupan bermasyarakat. Maka melalui persyarikatan Muhammadiyah, kita berupaya untuk menjadikan hidup kita ini bermanfaat, dengann cara menghidmatkan diri dalam perjuangan persyarikatan Muhammadiyah.
Muhammadiyah yang telah berumur 117 tahun, tidak ada tanda-tanda akan redup perjuangannya, bahkan terasakan semakin bersinar dengan berbagai bidang pengabdiannya dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa. Para pengurusnya pun tidak tampak ada tanda-tanda kelelahan, mereka terus bersemangat. Mereka berhenti berhidmat di Muhammadiyah, hanya ketika ajal menjemputnya, yang kemudian digantikan oleh generasi-generasi penerusnya. Maka di tahun 2026 ini Muhammadiyah memiliki aset 475 daerah, 3.947 cabang, 14.670 ranting, 20.000 TK/PAUD, 440 pondok pesantren, 126 rumah sakit, 302 klinik, 5.523 sekolah/madrasah, serta 162 perguruan tinggi.
Ceramah diakhiri dengan Prof Sofyan Anif, mantan rektor UMS, yang sekarang menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Gombong. Ceramah Prof Sofyan sangat mengalir secara empiris, berdasarkan pengalamannya berjejaring dengan para tokoh nahdlatul ulama. Satu hal yang menarik adalah bahwa mereka para tokoh NU itu sangat membanggakan persyarikatan Muhammadiyah, sebagai gerakan yang solid, mandiri, elegan, dan profesional. Seluruh aset yang dimiliki adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Pimpinan boleh berganti, oleh karena dibatasi oleh periodesasi kepengurusan. Akan tetapi kesolidan organisasi terus terjalin, melalui regenerasi kepemimpinan yang tersistem secara rapih.
Itulah sebabnya Muhammadiyah tidak hanya memiliki aset di dalam negeri akan tetapi juga di luar negeri. Di usianya yang mencapai 117 tahun Muhammadiyah memiliki cabang istimewa di 30 negaraa, dan juga AUM di luar negeri seperti Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Muhammadiyah Australia Collage (MAC), sampai TK ABA di Kairo, dan sekolah darurat untuk pengungsi Palestina di Lebanon.
Jadilah suasana jama’ah subuh di musholla kecil di hotel ini terasakan adanya pencerahan yang sangat bermakna. Tidak hanya spiritualitas pagi subuh saja, tidak hanya silturahmi saja, akan tetapi juga silatulfikri yang sangat bermanfaat.
dan diMenjelang subuh ramadhan di masjidil haram kota suci Makkah, jamaah sangat penuh berdesakan. Konon jamaah umroh ramadhan 1447 H ini jauh lebih banyak dari jamaah haji. Jika di musim haji quota dibatasi yaitu sekitar 3,5 juta, sedangkan jamaah umroh di bulan ramadhan itu tidak ada pembatasan quota. Siapa pun dan dari mana pun orang mu’min dapat berangkat umroh ramadhan. Sebuah media mainstream di arab Saudi memberitakan jumlah jamaah umroh di bulan ramadhan 1447 H, pada hari ke delapan ramadhan sudah mencapai 11,6 juta. Maka betapa penuh sesaknya suasana masjidil haram dan sekitarnya.
Seorang ibu tengah baya, kalau lihat wajahnya seperti dari Yordania, berjalan membawa setoples kurma. Dia berjalan pelan mengelilingi kabah berlawanan arah dengan jama’ah thowaf, sambil menyodorkan kurma. Dia menyodorkan kurma itu kepada seluruh jamaah yang baru selesai thowaf. Berbondong bondong para jama’ah mengambil satu butir satu butir, sambil senyum sebagai ungkapan terima kasih kepada ibu itu.
Jamaah thowaf yang mengambil kurma sudah tentu dari berbagai bangsa, tidak saling mengenal, tidak saling menyapa, hanya saling senyum. Ibu tengah baya itu pun melayaninya dengan tersenyum sambil terus pelan berjalan, sampai habislah kurma itu.
Barangkali kurma ini menjadi penutup waktu sahur bagi para jamaah karena 10 menit lagi menjelang subuh.
Kurma sebagai buah yang murah dan banyak di dapat di mana pun termasuk di Indonesia, di masjidil haram menjadi wahana persahabatan dunia. Orang dari berbagai negara, kulit putih, hitam, coklat, tua maupun muda, mengambil satu satu utk dimakan, sambil masing masing terulang senyum di bibirnya.
Pemandangan subuh ini begitu mengesankan bagi saya. Teringat sebuah ayat Al Quran
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati” (QS 9: 10).
Berdesakan ketika melaksanakan thowaf ; saling berhimpitan, saling senggol, saling mendorong, bahkan saling bertabrakan, merupakan hal biasa yang terjadi di seputaran ka’bah.
Postur orang Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Asia lainnya relatif kecil dan pendek. Dibandingkan dengan orang-orang Pakistan, Uzbekistan, Sudan, Zimbabwe dan banyak lagi bangsa lain, postur tubuh kita relatif lebih kecil dan pendek. Sehingga dalam adu berdesakan itu pasti mereka yang menang. Saya sendiri lebih suka mengambil posisi di belakang mereka ketika thowaf mengelilingi kabah, sehingga seperti memperoleh pemandu jalan.
Dalam suasana berdesakan saling mendorong, saling tabrakan, dan saling adu kekuatan, satu hal yang terlihat bahwa tidak ada pernah terjadi perkelahian. Mereka kemudian saling senyum apalagi ketika diingatkan sebagai dhuyuufurrohman , meskipun mungkin kesal karena jalannya diserobot. Tidak ada dendam tidak ada marah, yang ada adalah sama sama mengharapkan ridho Allah swt.
Dalam kebersamaan ummat muslim sedunia di masjidil haram ini, semua merasa sangat kecil di hadapan Allah. Kecil kemampuannya, kecil kekuasaannya,kecil kekayaannya. Inilah makna ungkapan laa khaula wala quwwata Illah billahi aliyyil adzim.
Semua manusia sama kedudukannya di hadapan Allah, yang membedakannya adalah ketaqwaan kepada Allah swt.
Kita teringat salah satu pesan rosulullah saw, sa’at melaksanakan haji wada’, sebagai haji perpisahan. Salah satu pesan beliau adalah “Wahai segenap manusia. Sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu adalah satu. Semua kamu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang yang bukan Arab melainkan dengan takwa itulah. Dan jika seorang budak hitam Abyssinia sekalipun menjadi pemimpinmu, dengarkanlah dia dan patuhlah padanya selama ia tetap menegakkan Kitabullah. Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan”
Oleh Prof Dr. Masrukhi, M.Pd.
Guru Besar Unnes-Rektor Unimus Semarang
![]()