Semarang | Transformasi digital menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan tata kelola perguruan tinggi yang modern, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Menyadari hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) terus memperkuat ekosistem digital melalui pengembangan sistem informasi terintegrasi yang mendukung layanan akademik, administrasi, keuangan, hingga pengambilan keputusan berbasis data.

Komitmen tersebut dipaparkan dalam sesi Biro Transformasi Digital pada Rapat Kerja Tahunan (RAKERTA) UNIMUS Tahun 2026–2027 yang mengangkat tema pengembangan SmartRoom, Sehati, Sistem Informasi Keuangan dan Persediaan Terintegrasi (SIMPATIMU), serta berbagai inovasi digital untuk mendukung transformasi kelembagaan.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Griya Persada Bandungan, Kabupaten Semarang, Kamis (30/7), dimoderatori oleh Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan, Dr. Ns. Ernawati, S.Kp., M.Kes., dengan pemaparan materi oleh Kepala Biro Transformasi Digital dan Marketing UNIMUS, Dr. Muhammad Munsarif, M.Kom.

Dalam paparannya, Dr. Muhammad Munsarif menjelaskan bahwa transformasi digital di UNIMUS diarahkan untuk membangun ekosistem layanan yang terintegrasi melalui konsep one data dan single sign-on (SSO). Melalui sistem tersebut, seluruh sivitas akademika dapat mengakses berbagai layanan kampus hanya dengan satu akun, mulai dari layanan akademik, kemahasiswaan, keuangan, hingga administrasi universitas.

Menurutnya, integrasi sistem bukan hanya bertujuan meningkatkan efisiensi layanan, tetapi juga membangun budaya kerja berbasis data yang mampu mendukung pengambilan keputusan secara cepat, akurat, dan transparan.

“Transformasi digital bukan sekadar membangun aplikasi, tetapi menghadirkan sistem yang saling terhubung sehingga seluruh proses layanan menjadi lebih efektif, efisien, dan mampu mendukung tata kelola universitas yang unggul,” jelasnya.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Sistem Informasi Presensi Terintegrasi yang memanfaatkan teknologi barcode untuk menggantikan proses absensi manual. Melalui sistem ini, data kehadiran mahasiswa maupun dosen dapat tercatat secara otomatis dan tersaji dalam dashboard yang memudahkan pemantauan aktivitas pembelajaran.

Data tersebut juga diintegrasikan dengan sistem pemantauan capaian studi sehingga program studi dapat lebih dini mengidentifikasi mahasiswa yang berisiko mengalami keterlambatan studi. Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu memperkuat peran dosen wali dalam memberikan pendampingan akademik secara lebih tepat sasaran.

UNIMUS juga mengembangkan Sehati sebagai sistem manajemen rapat elektronik yang mengintegrasikan proses penjadwalan, undangan, presensi, notulen, dokumentasi, hingga monitoring pelaksanaan rapat dalam satu platform. Kehadiran sistem ini tidak hanya meningkatkan efisiensi administrasi, tetapi juga menyediakan arsip digital yang dapat dimanfaatkan sebagai dokumen pendukung akreditasi maupun audit institusi.

Pada bidang pengelolaan sarana, SmartRoom diperkenalkan sebagai sistem pemakaian ruang berbasis digital yang memungkinkan dosen, mahasiswa, maupun unit kerja melihat ketersediaan ruang secara real time. Sistem ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pemanfaatan fasilitas kampus sekaligus mengurangi potensi benturan jadwal penggunaan ruang.

Selain itu, Biro Transformasi Digital juga tengah mengembangkan Sistem Informasi Keuangan dan Persediaan Terintegrasi (SIMPATIMU) yang menghubungkan proses pengelolaan keuangan, inventarisasi, dan persediaan barang secara lebih terstruktur. Integrasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta efisiensi dalam pengelolaan sumber daya universitas.

Transformasi digital juga mulai diterapkan pada layanan pengembangan karier dosen melalui sistem pengajuan jabatan fungsional yang terdigitalisasi. Seluruh proses pengajuan dirancang memiliki jejak dokumen yang jelas sehingga memudahkan koordinasi antara program studi, fakultas, dan universitas serta mempercepat proses administrasi.

Dalam sesi diskusi, para peserta memberikan berbagai masukan untuk penyempurnaan sistem, mulai dari penguatan fitur pelaporan, pengembangan aplikasi yang lebih ramah pengguna, hingga peningkatan integrasi antarplatform agar mampu menjawab kebutuhan spesifik setiap unit kerja. Pengembangan sistem juga diharapkan disertai dengan sosialisasi dan pendampingan sehingga implementasinya dapat berjalan optimal di seluruh lingkungan universitas.

Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah pengembangan sistem pemantauan akademik yang dapat diakses oleh orang tua mahasiswa, khususnya pada program profesi. Melalui fitur tersebut, orang tua diharapkan dapat memantau perkembangan studi, kehadiran, maupun informasi akademik lainnya sebagai bentuk dukungan terhadap keberhasilan pendidikan mahasiswa.

Bagi UNIMUS, transformasi digital tidak hanya dimaknai sebagai modernisasi teknologi, tetapi juga sebagai perubahan budaya kerja menuju organisasi yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berbasis data. Integrasi sistem informasi diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kepada sivitas akademika sekaligus memperkuat efektivitas tata kelola universitas.

Melalui pengembangan SmartRoom, Sehati, SIMPATIMU, dan berbagai sistem digital lainnya, UNIMUS terus membangun fondasi menuju smart campus yang mendukung proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengelolaan institusi secara lebih modern dan berkelanjutan.

Sejalan dengan semangat “Diktisaintek Berdampak”, transformasi digital di UNIMUS diarahkan untuk menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang lebih cepat, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan memanfaatkan teknologi sebagai penggerak inovasi, UNIMUS berkomitmen mewujudkan tata kelola perguruan tinggi yang efisien, akuntabel, dan mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Loading