Semarang | Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menghadirkan inovasi baru dalam proses pemilihan pimpinan. Untuk pertama kalinya, pemilihan calon formatur Pimpinan Pusat Tapak Suci dilaksanakan dengan memanfaatkan sistem electronic voting (e-voting).
Sistem tersebut dikembangkan oleh Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Digital (FIKOMDIGI) UNIMUS sebagai bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan Muktamar yang lebih efektif, cepat, dan akuntabel.

Dekan FIKOMDIGI UNIMUS sekaligus Ketua Panitia Internal Unimus pada Muktamar XVI Tapak Suci, Dr. Muhammad Munsarif, S.Kom., M.Kom., mengatakan penerapan e-voting menjadi salah satu bentuk nyata pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung tata kelola organisasi.
“E-voting ini kami terapkan dalam proses pemilihan pada Sidang Tanwir Muktamar XVI. Ini menjadi pengalaman pertama bagi Tapak Suci dalam menggunakan sistem pemilihan elektronik untuk memilih calon formatur,” jelas Munsarif.

Untuk menunjang proses pemungutan suara, panitia menyiapkan 20 bilik suara yang dilengkapi perangkat tablet. Penggunaan perangkat tersebut dirancang untuk memudahkan peserta sekaligus mempercepat proses pemilihan dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan akurasi.
Tidak hanya untuk pemilihan, sistem digital yang dikembangkan FIKOMDIGI UNIMUS juga telah dimanfaatkan dalam proses administrasi Muktamar. Sistem tersebut digunakan untuk mendukung pendaftaran peserta yang berasal dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, hingga perwakilan Tapak Suci dari luar negeri.

Dalam proses pemilihan pada Sidang Tanwir, terdapat 67 kandidat yang mengikuti tahapan pemilihan. Dari proses tersebut kemudian ditetapkan 27 kandidat untuk dibawa ke forum Muktamar, sebelum akhirnya dipilih dan ditetapkan menjadi 9 formatur Pimpinan Pusat Tapak Suci.
Munsarif menambahkan, aplikasi e-voting tersebut dikembangkan secara mandiri oleh FIKOMDIGI UNIMUS dengan konsep tanpa biaya pengembangan. Kehadiran sistem ini sekaligus menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap transformasi digital dalam pengelolaan organisasi.
Penggunaan e-voting mendapat respons positif dari pimpinan sidang dan panitia Muktamar. Sistem dinilai mampu menyederhanakan proses pemilihan, menghemat waktu, serta meningkatkan efisiensi pelaksanaan sidang.

Ketua Pelaksana Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Wiwaha Aji Santoso, S.Pd., mengatakan digitalisasi menjadi bagian penting dalam upaya membangun tata kelola organisasi yang lebih modern.
Menurutnya, penerapan sistem digital dalam Muktamar menjadi bukti bahwa proses administrasi dan pengelolaan organisasi dapat dilakukan secara lebih efektif dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.
“Yang kami dorong adalah bagaimana pengelolaan organisasi mulai bertransformasi ke sistem digital, termasuk dalam urusan administrasi. Apa yang kami terapkan dalam Muktamar ini menjadi bukti bahwa digitalisasi tersebut bisa dilaksanakan dan memberikan manfaat,” ungkapnya.

Wiwaha berharap pemanfaatan teknologi tidak berhenti pada pelaksanaan Muktamar, tetapi dapat dikembangkan dan diterapkan secara lebih luas hingga ke tingkat cabang Tapak Suci.
Meski mengadopsi teknologi digital, ia menegaskan bahwa modernisasi organisasi tetap harus berjalan seiring dengan penguatan karakter dan nilai-nilai yang menjadi jati diri Tapak Suci. Nilai akhlak, budi pekerti, adab, serta tradisi organisasi tetap menjadi landasan dalam menghadapi perkembangan zaman.
Dengan perpaduan antara nilai-nilai tersebut dan pemanfaatan teknologi, Tapak Suci diharapkan mampu berkembang menjadi organisasi yang semakin *mandiri, modern, adaptif, dan berdaya jangkau global*, tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasinya.
![]()