Semarang | Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) terus memperkuat langkah menuju perguruan tinggi berkelas internasional. Setelah berhasil meraih akreditasi unggul, Unimus kini mengakselerasi program internasionalisasi melalui peningkatan publikasi ilmiah dosen, mobilitas mahasiswa, serta penyelenggaraan forum akademik bertaraf internasional. Rabu, 15 Julii 2026

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan The 3rd International Seminar on Public Health and Sport Sciences (15-16/7/2026), yang menjadi wadah kolaborasi akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kebijakan dari berbagai negara untuk membahas isu-isu strategis di bidang kesehatan masyarakat.

Rektor Unimus, Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., mengatakan bahwa internasionalisasi merupakan tahapan penting yang kini tengah ditempuh Unimus setelah mencapai predikat perguruan tinggi unggul.

“Setelah unggul, langkah berikutnya adalah go international. Internasionalisasi tidak hanya diwujudkan melalui meningkatnya publikasi dosen di jurnal internasional dan aktivitas mahasiswa di tingkat global, tetapi juga melalui penyelenggaraan forum ilmiah yang menghadirkan kolaborasi lintas negara,” ujarnya.

Seminar internasional yang memasuki penyelenggaraan ketiga ini menghadirkan dua keynote speaker dan empat invited speaker dari berbagai institusi ternama dunia. Dua keynote speaker tersebut adalah Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta Prof. Taifo Mahmud, Ph.D. dari Oregon State University, Amerika Serikat.

Sementara itu, para invited speaker berasal dari sejumlah perguruan tinggi internasional, yakni Prof. Mohd. Rodi Isa dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Prof. Syafiq Zaid Abdul Aziz dari Taiwan Medical University, Prof. Dr. Surasa Kongprasert, Ph.D. dari Chulalongkorn University, Thailand, serta Prof. Dr. Sayono, S.K.M., M.Kes(Epid) yang mewakili Unimus dan Indonesia.

Selain menghadirkan pembicara internasional, seminar ini juga diikuti oleh para presenter dari empat negara, memperkuat jejaring akademik sekaligus membuka peluang kolaborasi riset di tingkat global.

Mengusung tema “Building Public Health Resilience in the Era of Climate Change and Digital Transformation Towards Sustainable Health”, seminar ini mengangkat tantangan besar yang tengah dihadapi dunia kesehatan.

Menurut Prof. Dr. Sayono, masyarakat saat ini berada dalam situasi yang semakin kompleks. Perubahan iklim, transformasi digital, serta munculnya berbagai penyakit secara bersamaan menuntut adanya pendekatan yang lebih komprehensif dalam membangun sistem kesehatan.

“Dalam epidemiologi dikenal istilah multiple burden of diseases, yaitu kondisi ketika berbagai persoalan kesehatan terjadi secara bersamaan dan saling memperburuk keadaan. Karena itu, membangun ketahanan kesehatan masyarakat harus dilakukan secara sistematis, dimulai dari penguatan berbagai tatanan dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” jelasnya.

Ia menambahkan, forum ilmiah internasional seperti ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai perspektif. Akademisi, peneliti, praktisi, hingga teknokrat dapat berdiskusi dan merumuskan solusi bersama dalam menghadapi tantangan kesehatan di era disrupsi.

“Melalui seminar ini, kita berharap lahir gagasan-gagasan inovatif dan kolaborasi yang mampu memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga pada tingkat global,” pungkasnya.

Reportase humas Unimus (Tri)

Loading